Bahagia-FotoOleh: Bahagia, SP., MSc. Sedang S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dan dosen Tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor

Ibadah kita belum sempurna kalau kita tidak mau beribadah kepada Allah dengan menyelamatkan kualitas ekologis. Bencana ekologis yang sampai kini dirasakan oleh manusia tidak lain karena ibadah terhadap ekologis sangat minim. Ibadah terhadap alampun belum dianggap sebagai sebuah hal yang menjadi keharusan. Dengan demikian persepsi umat bahwa ekologis perlu diselamatkan karena ibadah belum tumbuh. Kondisi ini membuat manusia tidak takut akan kesalahan dan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Manusia akhirnya melupakan tugas pokoknya sebagai pemakmur bumi.

Tanpa terkecuali manusia yang manapun. Semua mempunyai tanggungjawab ekologis. Mengapa demikian karena setiap kerusakan ekologis akan dirasakan oleh semua manusia yang tinggal dibumi. Manusia yang dipercaya sebagai pengelola bumi bukan berarti membiarkan bumi tidak diolah. Membiarkan tanah begitu saja dan membiarkan hutan untuk tidak ditebang. Kita harus menjaga keseimbangan ekosistem. Kenyataannya ekosistem jadi rusak. Kita tidak mau mengelola lingkungan hidup dengan benar.

Selagi bencana ekologis masih melanda lingkungan maka ibadah terhadap ekologis masih rendah. Selama ini kita belum luas memaknai ibadah. Dengan begitu Allah sebagai pencipta tidak marah karena ekologis masih dapat diselamatkan. Manusia secara total harus berserah diri kepada Allah dengan cara memperbaiki semua lingkungan hidup. Mengapa kita tidak mau beribadah kepada hewan liar yang ada dibumi. Hewan liarpun kadang dibuat jadi bahan permainan dan hobi.

Hewan liarpun digunakan untuk mencari uang. Biarkan hewan-hewan liar yang ada dihutan. Jangan pelihara terkecuali untuk menyelamatkannya namun kembalikan lagi hewan liar ke alamnya. Kadang kita jadi tertarik dengan hewan liar. Tanah juga tampak makin gersang. Sulit dimasuki oleh air hujan dan kemudian banjir. Tumbuhanpun bisa punah kalau tidak diselamatkan. Buktinya tumbuh-tumbuhan kita sudah banyak sekali yang punah. Satu sisi peran tumbuhan sangat vital untuk menyelamatkan kehidupan makhluk hidup.

Ditambah lagi dengan lingkungan kita yang sudah kotor. Air kita makin hari makin banyak air comberan. Udara kita beraroma busuk dan penuh dengan gas emisi. Suhu kita panas dan tak menentu. Hujanpun kadang derasnya setengah mati. Kalau kita kaji lebih jauh dampak dari hilangnya satu buah pohon kemudian berdampak terhadap ekologis. Segitu luasnya dampak kerusakan pohon terhadap lingkungan hidup. Hewan yang bergantung hidup harus menjadi gelandangan. Oksigen yang dihasilkan makin menipis dan semakin sedikit kemampuan tumbuhan untuk menetralkan gas emisi.

Baca Juga :  BUNG HATTA ADALAH PANCASILA YANG BERJALAN

Dengan demikian banyak makhluk hidup seperti hewan dan manusia yang rugi. Siapa yang merusak satu batang pohon tadi membuat banyak masalah. Luas sekali kerusakan satu buah pohon untuk semua makhluk hidup. Satu sisi kalau seseorang menanam tumbuhan maka terhitung menjadi sedekah bagi manusia. Oksigen yang dihasilkan dari tumbuhan menjadi sedekah baginya untuk semua makhluk hidup. Orang yang menanam pohon dalam rangka memperbaiki lingkungan hidup akan mendapatkan banyak sedekah dan ibadah. Jangkauan luasnya dampak kebaikan dari pohon terhitung sebagai ibadah bagi yang melakukan.

Manusia yang lewat dan merasakan kesegaran dari pohon dirumahnya akan kecipratan ibadah. Orang yang memuji pohon yang dia tanam karena rindang dan indah menjadi ibadah bagi yang menanam. Hewan yang bersarang dan bertengker karena merasa senang dengan pohon yang ia tanam akan jadi ibadah bagi penanam pohon. Buah dan biji dari pohon yang ditanam kemudian dimakan oleh burung dan burung kemudian memberikan kepada anak-anaknya. Semua itu terhitung menjadi ibadah bagi yang menanam pohon. Orang yang tidak sengaja mengambil buah dan biji juga termasuk sedekah bagi orang tadi.

Biji pohon yang menyebar ke seluruh bumi kemudian jadi tumbuhan baru juga terhitung menjadi ibadah. Demikian juga pada tanah yang kering, kemudian dihutankan. Setelah itu air tersedia karena hutan mempunyai peran dalam menghambat air untuk masuk kedalam tanah. Air yang masuk ke tanah akan mengalir ke setiap manusia. Setiap manusia yang dapat air dari penggalian sumur terhitung ibadah. Makhluk hidup yang dapat untung dari air tadi juga jadi ibadah. Kebalikannyapun terjadi. Rusaknya satu batang pohon membuat lingkungan makin rusak.

Banyak makhluk hidup yang merasakan dampak buruknya. Hewan dan manusia merasakan hawa panas. Merasakan suhu kadang tidak stabil. Banyak makhluk hidup yang mati dan punah karena rusaknya pohon sebagai rumah hewan. Setiap makhluk hidup yang mengeluh karena perangai seseorang merusak pohon maka jadilah kesalahan baginya. Apakah kita tidak mau akui dosa kalau kita membuat orang lain sulit bernafas hanya karena kita hilangkan pohon dari lingkungan. Setiap manusia yang mencela ketidakindahan dari bentang alam karena hilangnya pohon maka terhitung juga kesalahan.

Baca Juga :  BUNG HATTA ADALAH PANCASILA YANG BERJALAN

Setiap manusia yang mengeluh dengan banjir karena hilangnya pohon maka segitu banyak kesasalahan. Jika dalam satu kabupaten mengeluh karena panas, banjir dan kering maka segitu banyaknya kesalahan. Apakah kemudian kita tidak mau akui kalau itu dosa akibat kesalahan? ditambah lagi dengan banyaknya hewan yang berdoa kepada Tuhan karena kita telah merusak habitatnya. Apakah kita tidak yakini kalau hewan tadi punya cara khusus berdoa kepada Tuhan? harusnya kita tau hal itu. Kita harusnya mulai sadari kalau dosa kita menumpuk dengan banyaknya bencana ekologis.

Dosa termasuk urusan Tuhan namun kalau orang banyak merusak pasti ada tanggungjawab karena bertambahnya dosa. Kalau kita amati lagi lebih jauh. Dengan hilangnya pohon terjadi peningkatan suhu secara global. Segitu luasnya yang merasakan dampak perubahan iklim. Negeri kita dan negeri lain merasakan dampak perubahan iklim karena rusaknya pohon. Tentu banyak manusia dan makhluk Allah yang sedang bertasbih terkena dampak dari perubahan iklim. Dengan begitu apakah kita masih tidak mengakui sekian banyaknya perilaku salah tadi. Begitu banyak makhluk hidup yang merasakan. Tentu terhitung juga sebagai perilaku yang salah.

Apakah tidak mau mengakui berapa banyak orang yang sakit karena terkena zat berbahaya akibat emisi. Dengan merusak pohon maka kesalahan manusia perusak pohon sangat luas. Berdampak buat seluruh makhluk hidup dan lingkungan. Tanah-tanah jadi gersang karena matinya sistem dalam ekosistem hutan. Kondisi itu membuat minim masukan dedauanan ke tanah. Tentu minim juga pelapukan dalam tanah. Lubang tanah jadi padat dan bahkan mampet. Kita harus memperluas makna nilai ibadah kita. Kita mulai memahami bahwa orang bisa masuk ke surga karena merawat alam dengan baik. Sedekah yang tergolong banyak dan berlipat-lipat bagi penyelamat kalau dirinya mau merawat alam.

Demikian juga sebaliknya. Kalau dirinya merusak terus menerus maka makin luas dampaknya. Makin banyak yang terkena dampak dan makin parah kerusakan. Semua terhitung kesalahan baginya. Kalau kita katakan manusia gagal sebagai pemakmur bumi maka banyak yang tidak mau terima. Kita harusnya berpikir jauh seperti apa ibadah yang sudah kita lakukan. Untuk itu kita harus beribadah terintegratif. Perintah wajibnya kita lakukan namun jangan sampai kita jadi terhambat untuk masuk surga karena rusaknya ekologis sebab kita gagal sebagai pemakmur bumi.