tiga-sekawanJAKARTA TODAY- Lembaga survei politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA merilis hasil survei Pilgub DKI 2017. Hasilnya, pasangan Ahok-Djarot masih unggul.

Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan sampel 440 responden yang tersebar di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu pada 28 September-2 Oktober 2016. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka. Margin of error plus minus 4,8 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Survei dilakukan dengan biaya sendiri, dan dilengkapi dengan kualitatif riset seperti FGD (Focus Group Discussion), analisis media, dan wawancara mendalam.

Dari hasil survei 3 pasangan kandidat, pasangan Ahok-Djarot memuncaki peringkat dengan elektabilitas 31,4 persen. Peringkat kedua diisi oleh Anies-Sandiaga dengan elektabilitas 21,1 persen. Kemudian di posisi ketiga ada Agus-Sylviana dengan elektabilitas 19,3 persen. Responden yang belum menentukan pilihan sebesar 28,2 persen.

“Dari pemilih belum tetap masih ada 28,2 persen. Jika kita distribusikan ke ketiga calon, tidak mencapai 50 persen. Siapapun calon yang ada saat ini berpotensi dua putaran,” ujar peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam konferensi pers hasil temuan dan analisis survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA ‘Ahok Potensial Kalah?’ di Graha Dua Rajawali – Lingkaran Survei Indonesia, Jl Pemuda No 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa, (4/10/2016).

Tren elektabilitas dan kesukaan Ahok menurun sejak survei diadakan pada Maret 2016, Juli 2016, dan Oktober 2016 sebesar kurang lebih 18 persen dan 13 persen. Adjie menjelaskan ada empat alasan Ahok mengalami penurunan.

“Pertama isu kebijakan, seperti penertiban di sejumlah wilayah seperti Kalijodo, Kampung Pulo, dan lainnya. Kedua, masalah personality Ahok yang kasar. Kemudian, isu primordial, dan yang terakhir ada alternatif cagub yang lebih fresh,” ujarnya.

Menurut Adjie, pasangan Anies-Sandiaga dan Agus-Sylvi berpotensi menggeser pasangan Ahok-Djarot. “Anies dan Agus potensial mengejar karena tingkat pengenalan atas mereka masih belum maksimal dan mungkin naik. Yang mengenal Agus dan Anies masih di bawah 80 persen dari pemilih,” kata dia.

LSI juga memprediksi pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat dapat lolos ke putaran ke-2 Pilgub DKI 2017. Namun, tingkat elektabilitas pasangan ini terus menurun.

“Jadi, hal ini menunjukkan Ahok sebagai incumbent masih menjadi nomor satu pada hasil survei. Namun survei ini sebagai wake up call bagi incumbent bagi Ahok. Karena posisinya incumbent elektabilitasnya terus merosot bahkan di survei kami hanya 31,4 persen,” ujar Adjie.

Hal ini diungkapkan Adjie saat konferensi pers hasil temuan dan analisis survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA “Ahok Potensial Kalah ?”. Adjie mengatakan bahwa sangat besar kemungkinan terjadi Pilgub dua putaran.

“Prediksi kita kalau dari data yang dukungan secara merata artinya bahwa dua putaran sangat besar Pilkada DKI dan ketiga calon memiliki peluang yang sama masuk putaran kedua dan masih memiliki peluang sama tersingkir pada putaran kedua,” ujar Adjie.

Sebagai petahana, Ahok dinilai memiliki peluang lebih besar masuk ke putaran kedua. Tinggal ditunggu lawannya, apakah Anies-Sandiaga atau Agus-Sylviana, tergantung efektivitas strategi masing-masing. “Kalau terjadi dua putaran segala kemungkinan bisa terjadi. Karena kita tidak tahu siapa yang muncul di putaran kedua. Namun dari data ini kemudian Ahok masuk ke putaran kedua. Siapa pun lawannya mungkin saat ini publik masih memiliki figur di luar incumbent, dengan data ini total suara Anies dan Agus di atas suaranya Ahok,” ulas Adjie.

Menyikapi hasil survei ini, Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukriyanto mengaku sangat bersyukur. Menurut Didik, hasil survei LSI Denny JA menandakan warga Jakarta mulai menunjukkan simpatinya kepada duet Agus-Sylvi.

“Tentu kami mensyukuri itu. Dan ini menjadi energi baru bagi kita untuk memenangkan pasangan kita yaitu Mas Agus dan Mpok Sylvi. Munculnya beliau tiba-tiba, munculnya Mas Agus yang surprise tidak direncanakan sejak awal ini menjadi sebuah rasa syukur buat kita bahwa calon kita yang muncul tiba-tiba, yang mendadak ini sudah mendapatkan respons publik yang begitu luar biasa,” kata Didik di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Didik menambahkan, hasil survei ini makin menyemangati seluruh kader partai pengusung untuk mengampanyekan duet Agus-Sylvi ke warga Ibu Kota. Partai Demokrat, kata Didik, semakin optimistis menatap Pilgub DKI 2017. “Tentu kami tidak ingin menganggap hal ini sesuatu yang besar untuk kita. Tapi tentu berterima kasih kepada publik yang telah empati kemudian merespons dan mendukung Mas Agus ke depan. Ini modal besar bagi kami selaku kader-kader untuk mengkapitalisasi lebih besar lagi kepada masyarakat bahwa inilah saatnya Jakarta ini menghadirkan pimpinan yang visioner, yang tegas yang cerdas yang humanis dan bermartabat,” paparnya.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan calon petahana Basuki T Purnama (Ahok) elektabilitas Agus-Sylvi cenderung lebih baik. Nama Agus Harimurti yang muncul jelang batas akhir pendaftaran ternyata tak membuat dirinya dipandang sebelah mata oleh warga Jakarta. “Saya berpikir dengan konstelasi Pilkada yang dimulai dari 5 tahun yang kemudian mulai 1 tahun yang lalu dibanding Mas Agus yang baru muncul tiba-tiba atau belakangan kemarin ini menjadi modal yang besar untuk kami lebih bekerja keras. Untuk lebih memperluas lagi sosialisasi dan mengenalkan Mas Agus bahwa calon kita ini yang menghadirkan pasangan baru yang ingin membuat Jakarta lebih manusiawi dan bermartabat,” ungkap Didik.