SETAHUN berbuat baik, sehari saja berbuat tak baik, maka kebaikan yang setahun akan hilang musnah terhapus dan hilang dari ingatan banyak orang. Demikian petuah orang bijak kepada para pemuda agar betul-betul menghindari menyakiti orang lain. Kaidah kehidupan ini banyak berlaku dalam kenyataan sosial kita.

Apakah kaidah tersebut berlaku dalam kehidupan berpolitik? Tunggu dulu. Seorang politisi yang selama limata tahun tak pernah peduli rakyat saja banyak terpilih sebagai wakil rakyat. Faktanya, orang yang kebiasaannya suka melukai perasaan orang lain ternyata masih saja berpeluang atau telah terpilih menjadi pemimpin. Lalu apa sesungguhnya yang membuatnya berbeda?

Dalam pola hubungan sosial, yang berbicara adalah rasa atau hati. Sementara dalam hubungan politik, yang berbicara adalah kepentingan. Lihatlah bagaimana perbedaan pertemanan dalam ranah sosial dan pertemanan dalam konteks politik. Persahabatan yang terbangun hanya atas nama kehidupan sosial relatif lebih lama dan tahan guncangan. Sementara persahabatan atas dasar kepentingan politik mudah pecah serta pindah ke lain hati.

Lihatlah panggung politik negeri ini, begitu banyak contoh orang yang dulunya bersahabat, kini berseteru. Bawahan yang dulunya taat dan selalu memuji atasan ternyata berpindah partai dan mengubah posisi melabrak mantan atasannya demi atasan barunya.

Penelitian psikologi memang menyebutkan, Orang itu tak selamanya loyal.  Beragam alasan untuk pindah ke lain hati. Yang paling hina adalah karena urusan uang, duit, fulus atau harta mereka berseteru dan berkhianat. Jagalah nama dan martabat diri. Itulah yang paling mahal yang dimiliki manusia. (*)