donald-trump-drugs-drug-use-sniffing-sniffles-cocaine-clinton-debate-test-hillaryYuska Apitya Aji

[email protected]

Kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat yang baru, Donald Trump, ditunggu-tunggu pemerintah Indonesia. Beberapa peluang dan tantangan ekonomi yang ada pada tahun ini muncul dari kebijakan Donald Trump. Apa saja itu?

Menurut Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung, jika kebijakan fiskal yang akan dikeluarkan Trump sesuai dengan janji kampanyenya seperti pemangkasan pajak, ditambah kenaikan suku bunga The Fed, maka itu akan menguatkan nilai tukar dolar.

“Kalau fiskalnya ekpansif kemudian direspon oleh The Fed maka ini resep untuk penguatan dollar,” kata Juda Agung, dalam diskusi Economic Outlook, di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2017).

Jika dolar menguat, nantinya mata uang lain seperti rupiah diperkirakan melemah. Namun, ada kabar baiknya bagi Indonesia, yaitu harga-harga komoditas ekspor akan membaik. “Good newsnya adalah bahwa harga-harga komoditas khususnya ekspor kita mengalami kenaikan yang luar biasa,” ujar Juda.

Ia mengatakan, harga komoditas seperti batubara dari kuartal III hingga akhir tahun lalu mengalami kenaikan 30%. Kenaikan itu terjadi karena China mengurangi produksi batu baranya, tetapi ia mempertanyakan apakah ini sebagai suatu hal yang suistainable atau tidak. “Kuartal III sampai akhir tahun lalu saja batubara naiknya hampir 30% jadi ini seebuah peluang, apakah harga ini sustainable? Ada yang mengatakan ini karena penurunan produksi batu bara dari China yang kemudian China impor dan harga naik, China dari sisi rebalancaing ekonomi, yang dia mau mengarah ke domestik ekonominya kelihatannya kembali kepada investasi ekspor sehingga membutuhkan natural resources yang diimpor dari luar negeri,” imbuhnya.

Ia menyebut jika harga komoditas meningkat, maka akan memperbaiki sektor investasi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga diperkirakan naik sehingga menjadi peluang Indonesia di tahun ini. “Di sektor investasi, ada korelasi yang kuat di harga komoditas. Investasinya yang baik, walaupun volume ekspsor yang sama, sektor itu ada peluang, jadi dari segi ekspor baik, konsumsi baik, investasi baik,” ujarnya.

Baca Juga :  Kreasi Ditengah Pandemi, Patriot Desa Latih Emak-emak Rengasjajar

Indonesia dianggap masih beruntung bila Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merealisasikan kebijakannya yang mengarah kepada proteksionisme di bidang perdagangan. Singapura dan Malaysia dinilai akan terkena dampak lebih buruk.

Juda Agung menjelaskan, AS merupakan pangsa ekspor terbesar bagi China. Bila AS menutup pintu perdagangannya maka China menjadi sangat tertekan. Tidak hanya itu, negara-negara yang selama ini ekspor ke AS namun harus melewati China akan terkena dampaknya. Negara tersebut di antaranya adalah Singapura dan Malaysia. Sementara posisi Indonesia tidak dalam rantai perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS). “Dampak langsung kebijakan Trump ke perdagangan Indonesia nggak terlalu besar,” ungkap Juda.

Juda menuturkan, ekspor Indonesia ke China lebih banyak digunakan untuk masyarakat di negara itu sendiri. Bila kemudian diolah dan diekspor kembali ke negara lain, porsi untuk AS tidak terlalu besar. “Misalnya pembuatan Apple atau produk elektronik lain. Kita itu nggak masuk dalam global value chain-nya dari China sedangkan kayak Singapura dan Malaysia, banyak memproduksi barang antara yang kemudian barang jadinya di ekspor ke AS,” jelas Juda.

Meski demikian, baik regulator maupun kalangan dunia usaha juga tetap harus mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Ini karena kebijakan masih sebatas wacana, sehingga dianggap sebuah ketidakpastian. “Kalau Indonesia ada dampaknya itu minimal lah,” tegas Juda.

Trump ingin mengembalikan kejayaan AS karena itu mendorong rakyatnya untuk membeli produk AS atau menutup pintu impor dari negara lain dan mempekerjakan lebih banyak warga AS ketimbang pendatang.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, masih ada kesempatan kepada negara-negara yang selama ini memiliki hubungan perdagangan dengan AS untuk menyesuaikan.

Indonesia, kata Lembong, diharapkan masih bisa menjalin hubungan perdagangan ekspor impor dengan AS, meskipun nantinya akan diterapkan kebijakan ‘America First’. “Jadi saya usul kita enggak perlu overreaction, jangan berlebihan, harus terus berprasangka baik, kasih dia waktu, settling in, untuk bisa menyesuaikan diri,” kata Thomas di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (30/1/2017).

Baca Juga :  Kreasi Ditengah Pandemi, Patriot Desa Latih Emak-emak Rengasjajar

Thomas menyebutkan, kebijakan-kebijakan yang telah diucapkan Trump tentu memberikan dampak ke negara-negara lain, seperti Indonesia. Sebab, dengan kebijakan proteksi tersebut membuat perusahaan AS yang selama ini investasi di luar harus mengalihkan investasinya ke AS sendiri.

Oleh karena itu, Mantan Menteri Perdagangan ini memastikan pemerintah Indonesia tetap bekerja keras dengan membuat iklim investasi semenarik mungkin. Kedua, pemerintah juga harus rajin mengembangkan alternatif investasi dari negara atau perusahaan lain. “Kalau memang perusahaan AS mengurangi investasi di luar negeri, ya mungkin kita juga musti kembangkan investasi dari Jepang, Korea, Eropa, dan Tiongkok,” jelasnya.

Selama ini, sambung Thomas, investasi dari AS kualitasnya sangat tinggi terutama di sektor teknologi dan consumer product. Sehingga, secara tidak langsung Indonesia masih membutuhkan produk-produk dari AS. “Maka dari itu kita harus kerja ekstra keras agar perusahaan AS tetap mau investasi meskipun mungkin akan ada tekanan dari administrasi Presiden Trump untuk mengalihkan investasi perusahaan-perusahaan mereka ke dalam negeri,” ungkapnya.

Upaya selanjutnya yang akan dilakukan pemerintah dengan membuka kesempatan kepada negara-negara lain jika AS menarik investasinya dari Indonesia.

Akan tetapi, diprediksi bahwa kebijakan tersebut tidak akan diimplementasikan secara langsung. Sebab, kata Thomas, AS juga membutuhkan negara-negara berkembang sebagai sumber pertumbuhan perekonomiannya.

“Pertumbuhan ekonomi tertinggi itu ada di negara berkembang, jadi perusahaan mana saja apakah Eropa, AS, Korea, Tiongkok, kalau mau mencari pertumbuhan enggak punya pilihan selain ke negara berkembang, jadi kalau satu meninggalkan medan, banyak yang lain yang mau mengisi vakum yang tercipta,” kata dia.

Lebih lanjut Thomas mengungkapkan, pasca kebijakan-kebijakan AS yang sudah diungkapkan Donald Trump, justru memberikan reaksi buruk dari masyarakat lokal AS. “Proteksionis ini mengakibatkan reaksi buruk dari masyarakat lokal, jadi justru banyak perusahaan AS yang minta maaf-maaf ke kami jadi investasi itu pada dasarnya kemitraan, enggak perlu saling tunjuk jari, harus selalu cari solusi bersama, kalau saling menyalahkan malah tidak produktif,” tandasnya. (*)