Berbicara itu fitrah manusia. Berbicara merupakan salah satu bentuk komunikasi terpenting. Komunikasi dikatakan baik jika pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh halayak atau penerima pesan. Dalam praktiknya, tak semua pesan bisa diterima dengan baik. Sangat tergantung pada siapa yang berbicara, kapan dan bagaimana dia berbicara serta faktor lain yang ada.

Karena itu, para guru kehidupan selalu menganjurkan agar kita tidak asal bicara. Berbicaralah berbobot agar pesan yang disampaikan bernilai. Dalam Al-Qur’an ada istilah qawlan tsaqiilaa (ucapan yang berbobot), qawlan syadiida (ucapan yang tepat sasaran), qawlan kariimaa (ucapan yang menyejukkan memuaskan) dan qawlan layyina (ucapan yang lembut). Tentu istilah tersebut adalah untuk komunikasi atau ucapan yang sukses dan bernilai.

Baca Juga :  5 Bagian-Bagian Mobil yang Rentan Rusak Saat Terkena Air Hujan, Pemilik Wajib Tahu

Siapakah yang memiliki ucapan-ucapan bernilai itu? Para alim dan para pengamal sejati agama menyebutkan bahwa ucapan bernilai tersebut hanya dimiliki orang-orang yang ucapannya dikemas dengan tauhid dan keikhlasan, bukan dibungkus nafsu dan emosi. Komunikasi seperti itu hanya dimiliki oleh mereka yang hubungan hatinya dengan Allah begitu kuat sehingga dalam berbicarapun mereka mendahuluinya dengan menyebut nama Allah, perasaan bertanggungjawab kepada Allah dan sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah.