Dalam perspektif zaman now, kerja itu semata-mata untuk mengejar uang. Jika tak menghasilkan uang sesuai dengan harapannya, maka semulia apapun pekerjaan itu pasti ditinggalkan. Semangat menjadikan uang sebagai berhala baru ini, sudah menjalar hingga ke desa-desa yang berada di kaki gunung nun jauh di sana. Coba kita tengok, berapa banyak guru ngaji yang masih bertahan? Pekerjaan ini mulia, tetapi tak menghasilkan uang, maka ditinggalkan ramai-ramai. Berapa banyak kaum laki-laki yang masih rajin kerja bakti dan bergotongroyong membersihkan selokan, merawat jembatan, dan membabat rumput di tepi jalan kampung?

Baca Juga :  Pengurus PWI Sowan ke DPRD Kota Bogor

Kuatnya motif menjadikan uang sebagai berhala baru ini membuktikan bahwa faham kapitalisme, faham materialisme, faham hedonisme telah berhasil dengan sukses ditancapkan di benar banyak orang negeri yang dibangun dengan semangat relijius ini. Perubahan nilai ini telah menimbulkan masalah serius dalam kehidupan nyata. Yakni hilangnya semangat ukhuwah (persaudaraan) dan matinya nilai keikhlasan di hati banyak orang.

Baca Juga :  Bupati Bogor Ade Yasin Resmikan Program TMMD Ke-112 Tahun 2021

Perinsip bekerja untuk mengejar uang itu, sejatinya sudah menyimpang dari sunatullah. Orang-orang yang berekrja semata-mata untuk mengejar uang, akan kehilangan nilai dan tidak akan berharga lagi. Lihatlah jam yang kita miliki, baik jam meja, jam dinding atau jam tangan. Jam milik kita melewati waktu dengan bekerja tanpa henti, jarum pendek dan jarum panjang bekerja terus walau tak terus dipandang dan dilihat mata manusia. Sungguh ikhlas jam itu.