SUKAJAYA TODAY – Empat puluh hari pasca bencana yang menyerang awal Januari lalu, para pengungsi di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, mulai terjangkit berbagai penyakit kulit.
Hidup di tenda-tenda sementara, terjangkitnya para pengungsi tersebut ditenggarai karena minimnya air bersih dan sanitasi di sekitar pengungsian.
Relawan paramedis, Beni Malik menjelaskan, penyakit yang paling banyak diderita pengungsi yakni Dermatitis serta Sindrom Stevens Johnson, yakni semacam gangguan kulit dan selaput lendir langka dan serius.
Kata dia, itu terjadi seperti di Kampung Cihaur, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya. Dimana penyakit ini menyerang anak-anak berusia 10-12 tahun yang tinggal di pengungsian.
Menurut Beni, setidaknya ada delapan (8) kasus Dermatitis telah ditemukan di Cihaur. Sementara Sindrom Stevens Johnson telah menyerang satu anak berusia 2 tahun.
“Karena minim air bersih. Lokasi pengungsian juga kotor. Kami menemukan banyak penyakit kulit. Untuk kena Sindrom Stevens Johnson sudah dibawa ke rumah sakit,” kata Beni, dalam keterangannya yang diterima wartawan, Rabu (12/2/2020).
Menurutnya, para pengungsi yang terjangkit tersebut harus segera mendapatkan penanganan. Bahkan khusus Dermatitis, itu harus dikarantina agar penyakit tidak menyebar ke pengungsi lain. Karena Dermatitis cenderung mudah menular.
“Ya harus dipisah supaya tidak menular. Karena kebanyakan anak-anak yang kena. Jadi anak yang sakit harus dipisah dengan yang sehat. Karena itu kan bernanah. Jadi kalau pecah gampang nular,” jelas Beni.
Sementara untuk Sindrom Stevens Johnson, ia menyebut penyakit itu menyebabkan kulit orang terjangkit seperti terbakar dan mengelupas di sekujur badan disertai deman.
“Makanya kita evakuasi ke rumah sakit supaya mendapat penanganan medis intensif,” ungkapnya. (Firdaus)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















