Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

Penulis sangat prihatin dengan adab bangsa Indonesia di akhir jaman sekarang ini. Bagaimana tidak prihatin, para pemimpin dan masyarakat umum sering memperlihatkan adab yang kurang baik kalau tidak boleh dikatakan tidak sopan ketika bertutur kata.

Ketidak sopanan itu dapat kita lihat berupa perkataan, debat, sikap, ide, kebiasaan dan tulisan, baik di kehidupan nyata maupun dalam berkomunikasi lewat media sosial, media online dan media cetak, istilah kerennya membully.

Orang sudah biasa bicara kotor dan kasar, misal sewaktu Pilpres (Pemilihan Presiden) mencap negatif pendukung 01 dengan label cebong, mencap negatif 02 dengan label kampret. Alhamdulillah setelah Pilpres usai dan Prabowo gabung dengan Jokowi, istilah ini agak berkurang.

Tapi sekarang ada istilah baru lagi yaitu label Kadrun (Kadal Gurun) yaitu mencap negatif siapa saja dan Ulama yang mengkritisi pemerintah. Ulama (orang yang berilmu) yang terdiri dari Kyai, Ustadz dan Habib adalah pewaris ajaran Rosulullah SAW. Padahal para Ulama ini hanya menjalankan amar maruf dan nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) saja.

Ulama merupakan salah satu sumber ilmu dan keberkahan dalam kehidupan di dunia ini. Selain sebagai referensi keilmuan, ulama memiliki berbagai macam peran dan posisi yang sangat diharapkan kehadirannya dalam kehidupan umat.

Di antaranya, para ulama merupakan imam yang dapat membina dan memberi contoh kepada umatnya. Mereka adalah mujahid yang tanpa lelah berjihad demi kemaslahatan umat. Para Ulama adalah orang yang selalu mendoakan yang terbaik untuk umatnya, bangsa dan negaranya.

KH. Ahmad Nasihin menyampaikan Hadits Rasul yang menyatakan bahwa akan datang zaman dimana para umat lari menjauh dari para Ulama dan Fuqoha (ahli fiqih) sehingga Allah akan memberi 3 macam ujian dan balasan bagi umat tersebut.

Pertama bagi orang yang jauh dari para ulama akan dihilangkan keberkahan dalam usahanya (hidupnya). Keberkahan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Hidup yang terlihat sukses secara materi, namun menggunakan cara yang tidak benar, maka keberkahan baik dunia dan akhirat akan tidak dirasakan.

Meski kaya raja bermilyar atau bahkan bertrilyun uangnya atau meski jadi raja atau Presiden, tapi jika hidupnya tidak berkah, maka hatinya tidak pernah bahagia dan tenang. Hatinya selalu gelisah, mengeluh, tidak pernah bersyukur dan merasa kurang terus.

Orang yang seperti ini selalu disibukkan oleh urusan dunia yang sia-sia, menguras seluruh energinya, tanpa sempat beribadah kepada Allah SWT.

Kedua, bagi orang yang lari menjauh dari para ulama akan diberikan pemimpin-pemimpin yang dzalim. Pemimpin yang dzalim adalah pemimpin yang hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya. Pemimpin yang tidak memikirkan kemaslahatan umat dan menyengsarakan rakyat.

Pemimpin yang dzalim itu biasanya orangnya sombong, merasa paling benar sendiri, menganggap orang lain sdalah. Tidak mau menerima nasihat apalagi masukan ataupun kritikan. Pokoknya alergi dengan kritikan. Bahkan pemimpin yang dzalim tidak segan-segan untuk memfitnah, menangkap dan menjebloskan lawan politiknya ke penjara.

Ketiga, bagi orang yang jauh dari para ulama akan dikeluarkan dari kehidupan di dunia dalam kondisi tidak beriman dan jauh dari harapan menjadi khusnul khotimah. Ya karena setiap detik orang seperti ini hanya memikirkan dunia saja, yaitu kerja, kerja dan kerja. Oleh karena itu agar kehidupan kita mendapatkan keberkahan, maka kumpullah dan duduklah dengan para Ulama (Ustadz, Kyai dan Habib) dan orang-orang soleh. Jayalah Indonesiaku. (*)