BOGOR TODAY – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sebanyak 76,92 persen orang tua siswa mengeluhkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) tidak efektif dan dinilai berat serta menguras energi.

Mirisnya, sistem itu berdampak pada mental siswa. Dari mulai putus sekolah, penurunan pencapaian belajar hingga risiko kekerasan pada anak dan risiko eksternal.

“Ketika anak tidak lagi datang ke sekolah, terdapat peningkatan risiko pernikahan dini, eksploitasi anak terutama anak perempuan, dan kehamilan remaja,” kata Mendikbud, Nadiem Makarim dalam keterangan videonya, Rabu 18 November 2020.

Hal senada juga dikatakan Dewan Pendidikan Kota Bogor, Abdul Hakim. Ia mengakui bahwa akibat dari pandemi ini membuat para siswa tingkat sekolah pertama di kawasan perkampungan memutuskan untuk menikah.

“Ini yang menjadi PR penting bagi kami dan seluruh elemen di bidang pendidikan. Jangan sampai fenomena tersebut dibiarkan begitu saja,” kata Abdul.

Dengan demikian, Dinas Pendidikan Kota Bogor menyatakan tengah berupaya semaksimal mungkin dalam mengembangkan proses pembelajaran. Sehingga mampu mengantisipasi keluhan masyarakat dari segi insfrastruktur maupun materi yang disampaikan, agar kesehatan anak-anak tetap terjaga dan tidak depresi.

“Kami juga menyiapkan data chek list di setiap sekolah untuk memonitor kesiapan setiap sekolah untuk melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka,” tutupnya. (B. Supriyadi)