M. Aditiya Abdurahman

Oleh : M. Aditiya Abdurahman
(Koordinator Bem seBogor)

Dewasa ini saya ingin bernostalgia untuk mengulas rumus sederhana matematika yang sering kita lupakan dalam kehidupan sosial. negatif (minus) dikalikan negatif (minus) akan menjadi positif (plus) atau (- x – = +). dari pelajaran tersebut saya coba menggaris bawahi bahwa yang negatif (minus) bisa menjadi positif (plus) dalam kehidupan sosial pun sejatinya, setiap konflik maupun permasalahan saya percaya masih ada ruang untuk perdamaian bahkan jika ditelisik dari setiap peperangan pihak-pihak yang saling membunuh ada saatnya untuk kembali berjabat tangan dan berpelukan.

Keberagaman itu indah dan mesti kita lestarikan, perbedaan visi,misi dan aksentuasi biarkan tumbuh dengan kadarnya,ruangnya dan jadwalnya masing-masing (on the track) biarkan semuanya melaju cepat dalam irama yang sama sehingga menerbitkan pemandangan yang indah ditonton, dirasa tak perlu kita saling bertabrakan dan berkonflik dan menyuarakan ke hal yang negatif jika masih ada hal yang postif untuk kita kelola secara bersama.

Ingatlah pepatah, akibat nila setitik akan rusak susu sebelanga. Ada satu saja kekuatan politik melakukan tindakan yang tidak terpuji, akibat buruknya akan menimpa semuanya. Selain itu, tentu saja, yang akan menjadi korban adalah seluruh rakyat, baik yang berafiliasi langsung dengan kekuatan politik itu maupun tidak.

Dalam situasi ekonomi Indonesia yang kian terpuruk akibat pandemi covid-19, saya merindukan gelora kebersamaan itu terwujud dari kalangan pemuda,mahasiswa,kelompok masyarakat manapun dan menjadi penting untuk diketengahkan sebagai solusi.  Secara teoritis, yang bertanggung jawab untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah pemerintah karena untuk itulah antara lain mereka dipilih/ditunjuk dan diberi imbalan (gaji). Tetapi secara praktis, semua pihak bisa bertanggungjawab karena kebijakan apa pun yang ditempuh pemerintah tidak akan bisa berjalan efektif tanpa dukungan semua pihak.

Kebijakan-kebijakan pemerintah tidak berada di ruang hampa melainkan bergerak dalam ruang dan waktu. Dalam ruang dan waktu yang sama juga bergerak semua komponen masyarakat seperti kekuatan-kekuatan politik (partai), organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan agama, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lain-lain.

Jika semuanya bergerak masing-masing tanpa memedulikan yang lain sudah pasti akan menjadi gerakan yang sia-sia atau bahkan merusak. Seperti sekumpulan jangkrik yang dimasukkan dalam satu bejana, saling mendorong, menyentil dan menggigit, sehingga semuanya merasakan kesakitan.

Akan tetapi jika semua bergerak dengan memedulikan yang lain, pasti akan menjadi gerakan yang dahsyat baik dalam gerakan yang sama maupun berbeda-beda. Akan tampak seperti orkestra yang masing-masing suara bisa menjadi penunjang suara lainnya.  Inilah praktik gelora kebersamaan dalam gerakan . Bahkan dalam gerakan yang berbeda-beda pun ada kebersamaan.  Ada tujuan yang bisa diraih secara bersama-sama, yakni Indonesia yang maju, adil dan makmur. (*)