Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan & Guru SMA Pesat Kota Bogor)

Sudah hampir setahun pandemi Covid 19 kita alami di seluruh dunia, maka gaya hidup manusia di seluruh di dunia juga berubah, menjadi serba online dan melaksanakan Prokes (Protokol Kesehatan) 3M, yaitu sering mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker.

Kalau menurut Aa Gym selain protokol kesehatan, harusnya kita juga melaksanakan protokol sedekah, agar pandemi Covid 19 segera berakhir, Aamiin.
Termasuk pada dunia pendidikan yang semula proses pembelajaran secara tatap muka, sekarang ada proses pembelajaran DARING dan LURING. Apa itu pengertian dari DARING dan LURING?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kemendikbud, DARING adalah akronim dari dalam jaringan. Artinya terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya. Merinci kegiatan-kegiatan daring di antaranya, webinar, kelas online, KKN online, hingga kuliah online. Seluruh kegiatan dilakukan menggunakan jaringan internet dan komputer, bisa dengan zoom, google classroom dan lain-lain.

Sedangkan LURING adalah akronim dari luar jaringan. Luring diartikan sebagai terputus dari jejaring komputer. Adapun jenis kegiatan yang dilakukan Luring yakni menonton acara televisi sebagai pembelajaran siswa sekolah juga mengumpulkan karya berupa dokumen.

Kegiatan Luring tidak menggunakan jaringan internet dan komputer, melainkan media lainnya seperti televisi dan dokumen. Sudah banyak opini yang membahas tentang proses pembelajaran daring yang menarik, menantang, tidak membuat bete dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Tapi kebanyakan kita melupakan akan pentingnya adab dalam pembelajaran daring. Gara-gara kita terfokus pada pandemi Covid 19 dengan protokol kesehatannya dan daring dengan tetek bengek ITnya, maka adab peserta didik sering terlupakan. Untuk menghindari hal itu, maka dalam proses pembelajaran daring adab harus kita utamakan, yaitu dengan.

Pertama, sewaktu kegiatan pendahuluan pembelajaran, meski kita memakai daring, maka kita tetap memakai protap (prosedur tetap) pembelajaran seperti tatap muka. Seperti mengisi daftar kehadiran, memberi salam, berdoa, apalagi ini ada pandemi covid 19, doa bisa ditambah isinya, sehingga peserta didik menjadi lebih tenang, sabar dan tetap semangat belajar.

Setelah itu, penampilan peserta didik tetap kita cek, dengan memperlihatkan baju atas dan bawahnya di layar HP atau komputer. Peserta didik tetap memakai seragam sekolah seperti biasa.

Jika ada yang kurang rapi dan melanggar aturan baju seragam, maka Guru menyuruh peserta didik tersebut untuk merapikan penampilannya dan menyuruh ganti baju.
Untuk memudahkan mengatur semua ini, Guru mata pelajaran sewaktu proses pembelajaran daring ini dibantu oleh seorang Co-Host. Sehingga Guru mapel bisa nyaman dan tidak keteteran sehingga daring bisa berjalan efektif dan efisien.

Kedua, sewaktu kegiatan inti pembelajaran. Meski daring Guru dan peserta didik tetap menjaga adab. Misal jika ada peserta didik ijin ke toilet atau keperluan lain, maka murid tersebut harus ijin lewat chat.
Juga selama proses pembelajaran daring murid tetap taat aturan, tertib, disiplin, fokus pada materi dan duduk dengan sopan. Peran Co-Host melihat semua peserta didik jika ada yang melanggar sehingga daring berjalan dengan konduksif.

Ketiga, sewaktu penutupan pembelajaran, Guru meminta maaf, takut jika ada kata-kata yang kurang tepat atau salah. Kemudian bersama-sama dengan peserta didik mengucapkan hamdalah. Terakhir peserta didik mengucapkan terima kasih kepada Gurunya atas ilmu yang di dapat pada hari ini.

InsyaAllah jika kita menerapkan seperti ini, mau daring, luring dan tatap muka, adab murid terhadap Guru tetap terjaga. Karena beradab itu lebih penting dari pada berilmu. Jika beradab pasti berilmu, tapi jika berilmu belum tentu beradab. Contohnya sekarang ada orang pintar yang berilmu, tapi tidak punya adab, telah melakukan korupsi. Jayalah Indonesiaku. (*)