Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan & Guru SMA Pesat)

Kabar duka kembali dialami umat Islam Indonesia karena Ulama kondang Syekh Ali Jaber wafat hari ini (14/01/21) di RS Yarsi. Syekh Ali Jaber sebelumnya dirawat karena terpapar covid-19. Namun, sebelum meninggal, beliau sudah dinyatakan negatif covid-19.Jenazah Syekh Ali Jaber dimakamkan di Ponpes Daarul Quran pimpinan Ustadz Yusuf Mansur.

Kepergian seorang Ulama tentu meninggalkan duka mendalam dan menjadi kerugian besar bagi kita semua. Karena untuk mencetak satu Ulama itu butuh waktu yang lama, butuh kesabaran, ilmu yang mumpuni dan keistiqomahan . Sedih rasanya sejak tahun 2019 sampai sekarang banyak Ulama Indonesia yang wafat.

Tahun 2019 yaitu Ustadz Muhammad Arifin Ilham (Bogor), KH Fadli Badjuri (Bandung), KH Tolchah Hasan (Tuban), KH Maimoen Zubair/Mbah Moen (Rembang), KH Abdurrahman Nawi (Depok), KH Hilman Wajdi (Malang).

Tahun 2020 yaitu Ustadz Yunahar Ilyas (Yogyakarta), KH Salahuddin Wahid/Gus Sholah ( Jombang), KH Ghozali (ahli ilmu falak), Prof KH Usman Said (Palembang), KH Ahmad Zuhdiannoor/Guru Zuhdi (Palembang), KH Syamsul Hadi Abdan (Gontor Ponorogo), KH Hasyim Wahid (adik bungsu Gus Dur), KH Abdullah Syukri Zarkasyi (Gontor), KH Noer Muhammad Iskandar SQ (Jakarta), KH. Khoddamul Quddus (Bogor), Habib Jafar (Kudus).

Tahun 2021 yaitu Mama Ajengan RKH Abdulloh Nachrowi bin Mama Ajengan RKH Yasin (Bogor) dan yang terbaru Syekh Ali Jabber serta Ulama yang tidak tercatat oleh penulis atau Ulama-ulama di kampung atau daerah yang terpencil yang tidak kita ketahui.

Khusus di opini ini penulis membahas Syekh Ali Jabber, karena penulis pernah seharian bersama beliau dari jam 6 pagi sampai isya. Ini kejadian pada tahun 2013 karena saya dapat tugas dari Sekolah Pesat untuk menjemput beliau, dalam rangka tabligh akbar.

Baru kenal, kami berdua langsung akrab bahkan beliau sampai bercerita tentang kesukaan dan pribadinya. Inilah kenangan indah bersama Syekh Ali Jabber.

Beliau bersyukur kepada Allah, karena diberi kemudahan untuk belajar bahasa Indonesia dan bisa lancar berbahasa Indonesia. “Biasanya orang Indonesia belajar bahasa Arab, tapi saya sebaliknya,” katanya.

Saya dapat status WNI wasilahnya gara-gara saya tausyiah di istana negara, waktu itu Presiden SBY bilang saya lebih baik memberi status WNI ke Syekh Ali Jabber, karena sudah terbukti manfaatnya untuk umat Islam.”Saya sudah banyak memberi status WNI kepada pemain sepak bola yang berasal dari luar negeri, tapi sampai sekarang Indonesia belum juga jadi juara,” ujar SBY sambil tersenyum.

Karena beliau tahu kalau saya kenal dekat dengan Ustadz Muhammad Arifin Ilham, maka beliau pesan salam untuk Ustadz Arifin, sambil berkata,”Pak Heru saya malu dengan Ustadz Arifin, Aa Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Koko Liem, karena mereka sudah banyak mengarang buku sementara saya belum sama sekali,”terangnya. Tapi alhamdulillah beberapa tahun kemudian Syekh Ali Jabber berhasil membuat buku dengan judul Cahaya Dari Madinah.

Itulah sifat tawadu seorang Ulama. Sama sewaktu penulis ketemu Ustadz Yusuf Mansur juga memuji Ustadz Arifin, yaitu saya mah jauh dengan Ustadz Arifin, beliau ahli dzikir sementara saya banyak ngurus bisnis saja. Sewaktu penulis ketemu Ustadz Arifin gantian beliau memuji Ustadz Yusuf Mansur dan berkata Ustadz Yusuf Mansur adalah Ulama yang sukses berbisnis dan bersedekah.

Syekh Ali Jabber suka dengan buah durian, terbukti sewaktu di pinggir jalan ada penjual es durian, beliau mau dan sangat menikmati es durian tersebut.

Kemudian sewaktu mau berpisah dengan penulis, Syekh Ali Jabber berpesan kepada penulis,”Karena pak Heru kenal dekat dengan Ustadz Arifin, maka pesan saya, jika mau tidur mohon untuk membaca Basmalah sebanyak 100X, agar berkah hidup pak Heru,”Aamiin, doanya.

MasyaAllah rasanya baru kemarin nasihat itu, padahal sudah hampir 8 tahun. Semoga semua dosanya diampuni oleh Allah dan semua amal ibadahnya diterima oleh Allah serta keluarganya diberi kesabaran, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)