Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan & Guru PPKn SMA Pesat)

Wong cilik itu rajin, sabar, semangat dan kreatif, atau dengan kata lain wong cilik itu bukan pemalas, bukan pemarah, bukan loyo dan bukan statis menerima nasib dengan cicing wae.

Inilah buktinya jika wong cilik itu rajin, sewaktu kebanyakan orang tertidur pulas sebelum waktu subuh, wong cilik sudah gas pol dengan bekerja di pasar jualan sayur mayur, buah, ikan laut, sembako atau apa saja asal tidak miras dan narkoba serta yang penting halal bro.

Setelah subuhpun, wong cilik sudah menyiapkan dagangannya berupa jualan nasi uduk, bubur ayam, bubur kacang ijo dan ketan hitam, SGPCL (Segopecel) sarapan khas orang jawa, segala macam gorengan, warteg, rumah makan padang, dan semua pedagang kaki lima yang lain yang seabrek jumlah dan jenisnya.

Menjelang siang gantian penjual minuman penyegar mulai jualan, yaitu es kelapa muda, es doger, es teler, es cincau, es dawet ayu, es nong jaman jadul dan semua es kekinian yang sekarang banyak menjamur di pinggir jalan. Ada juga para pedangan asongan dengan jenis dan jumlahnya banyak sekali.

Setelah itu menjelang sore sampai malam jam 24.00 ada penjual nasi goreng, pecel lele, sate, soto, bakso, mie ayam, roti bakar, pisang tanduk, segala jenis jajanan dan gorengan khas Indonesia.

Bahkan sekarang banyak toko kelontong yang buka 24 jam, ada juga tambal ban motor atau mobil 24 jam.

Hebat bukan, sehingga bisa dikatakan roda ekonomi wong cilik itu full dan gas pol 24 jam, mantul bro. Mobilitas wong cilik gak kalah sama SDM negara maju.

Wong cilik itu super sabar, di tengah pandemi Covid 19, wong cilik tetap bertahan dengan segala keterbatasannya.

Wong cilik gak minta subsidi dari pemerintah, tidak seperti para pengusaha dan oligarki yang minta disubsidi oleh pemerintah akibat adanya pandemi Covid 19 ini.

Meski memang ada bantuan untuk wong cilik seperti BLT, UMKM dan Bansos. Apes bin sial Bansosnya di korupsi oleh mantan Menteri Sosial Juliari Batubara dengan para rerengannya.

Sebuah kejahatan yang sungguh memalukan dan tidak punya rasa empati pada kaum duafa serta tidak punya rasa kemanusiaan, karena orang kaya mencuri harta orang miskin.

Maka layak dihukum mati saja, jangan seperti yang sudah-sudah koruptor hanya dihukum 2-3 tahun saja, kata bang haji Rhoma Irama….terlalu.

Jika wong cilik tidak dapat bantuan BLT dan Bansos dengan tenangnya, bilang ya belum rejekinya, kita nrimo saja.

Wong cilik juga semangat dalam bekerja, gak ada istilah ijin, libur, cuti atau berlibur akhir pekan, atau bersantai-santai. Karena jika tidak jualan maka ya tidak makan, atau pendapatannya berkurang.

Wong cilik juga terkenal pandai mengatur keuangannya, sehingga punya tabungan untuk jaga-jaga, jika mereka tidak jualan misal sakit atau untuk keperluan sewa kontrak toko atau keperluan yang lain.

Wong cilik juga kreatif, yaitu banyak jenis pekerjaan yang di luar pemikiran kita, bisa menjadi sebuah pekerjaan, di tangan wong cilik.

Misal ondel-ondel yang ada di pinggir jalan, jualan mainan anak-anak jadul, jualan pintu kusen, lemari kecil, bahkan ada tempat tidur sambil digendong sepanjang jalan, dan lain-lain.

Itulah hebatnya wong cilik di Indonesia, semoga bisa menginspirasi kita semua. Jayalah Indonesiaku. (*)