Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

Berikut penulis tampilkan 2 berita tentang penghargaan internasional bidang tranportasi untuk Anies Baswedan. Berita pertama isinya bersifat normal, artinya sesuai dengan fungsi pers. Fungsi pers sebagaimana terdapat pada pasal 3 UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers.

Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol social, disamping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi ayat (2).

Sementara berita kedua, isinya berita yang sinis, merendahkan, provokatif, berisi ujaran kebencian dan bahkan penuh fitnah. Baiklah silahkan dibaca pelan-pelan, dengan kepala dingan dan penuh keimanan.

Berita pertama, kerja keras Anies Baswedan dalam menata Jakarta mendapat penghargaan, bukan lagi skala nasional, tapi internasional. Anies Baswedan dinilai berhasil melakukan transformasi mobilitas kota yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup seluruh warga Jakarta.

Lembaga internasional Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI) adalah inisiatif implementasi global terkemuka pada mobilitas berkelanjutan yang dibentuk melalui persatuan 11 mitra bergengsi. Mereka bersatu dalam tujuan mengubah mobilitas untuk kepentingan manusia dan lingkungan, dengan tujuan masa depan.

TUMI mendukung proyek transportasi di seluruh dunia dan memungkinkan pembuat kebijakan untuk mengubah mobilitas perkotaan. Mereka mendasarkan pada tiga pilar inovasi, pengetahuan, dan investasi.
Nama Anies Baswedan berada dalam urutan ke-17 dalam daftar 21 pahlawan yang dianggap berjasa dan memiliki inisiatif dalam mobilitas masyarakat urban yang berkelanjutan.

Anies Baswedan dinilai pandai dalam membangun transportasi di ibukota. Salah satunya mengenai layanan bus dan rencana besar membuat kawasan bersepeda. Dalam hal ini, sepanjang 62 km di antaranya sudah terbangun. Jakarta saat ini dinilai bergerak menuju tujuan bersama untuk menciptakan transportasi yang adil, terjangkau, dan inklusif untuk semua.

Berita kedua, Tuman! Anies dan Buzzer Pemprov Banggakan Penghargaan dari Lembaga Abal-abal, yang viral di media. Dia mendapatkan penghargaan transportasi dari TUMI. Tidak dijelaskan dengan detail soal apa itu TUMI. Semua media yang penting mengabarkan bahwa Anies dapat penghargaan dunia.

Hasil cek dan ricek dari para netizen mengenai TUMI yang memberikan penghargaan transportasi ke si pemimpin rasisme itu, diduga merupakan berita untuk menutup-nutupi kasus yang sekarang sedang mencuat, yakni dana Formula E yang mendadak hilang.

TUMI adalah lembaga lokal di Jerman, mereka ini memiliki tugas memberikan pelatihan dan konsultasi tentang transportasi, dengan mobilitas warga di perkotaan. Maklum, karena kopit, TUMI ini sepi.

Sehingga TUMI yang sedang kesepian ini mencoba mencari berbagai cara untuk diperhatikan oleh dunia. Salah satunya dengan cara memberikan penghargaan kepada Jakarta. TUMI bisa men-screening kota mana yang pemimpinnya gampang “dibeli”. Jakarta masuk.

Akunnya di Twitter, tidak centang biru. Artinya tidak terverifikasi. Followernya hanya belasan ribu. Kemungkinan besar, sebelum kadrun follow ramai-ramai memfollow akun TUMI, paling saya tebak hanya ribuan.

Coba pembaca yang budiman, silahkan disimak lagi, banyak ujaran kebencian pada berita kedua. Yaitu terdapat kata-kata: Lembaga Abal-abal, kadrun. Ini semua adalah kata-kata yang tidak sopan.
Bahkan selain ujaran kebencian terdapat fitnah, yaitu: si pemimpin rasisme, Buzzer Pemprov, untuk menutup-nutupi kasus yang sekarang sedang mencuat, yakni dana Formula E yang mendadak hilang, pemimpinnya gampang “dibeli”.

Apakah benar hal ini? Apakah sudah cek and ricek? Apakah sudah konfirmasi? Apakah sudah tabayun? Apakah dapat informasi sumber yang layak dipercaya, valid serta kompenten? Jika tidak adalah fitnah jadinya.

Inilah akhir jaman banyak fitnah, segala cara dilakukan. Mengapa orang berani membuat fitnah, karena ada rasa kebencian, yaitu tidak suka melihat orang bahagia (sukses), dan senang jika melihat orang kena musibah (menderita). Jayalah Indonesiaku. (*)