BOGOR TODAY – Rektor Universitas IPB, Arif Satria menyebut terdapat tiga tantangan utama kota yang harus dihadapi sama-sama di tengah masa pandemi Covid-19. Pertama digitalisasi, urban farming dan sosial ekonomi.

Dengan tantangan tersebut, pihaknya akan terus mendorong dan berkolaborasi dalam pengembangan smart city untuk mengatasi revolusi distribusi 4.0. Salah satunya dengan mengembangkan green city untuk mengatasi masalah lingkungan dan sebagainya.

“Masalah demograpy ini merupakan masalah yang sangat penting untuk dicermati karena kota akan terus tumbuh dan penduduk akan semakin meningkat dan problem lingkungan akan menjadi publikasinya,” ucap Arif, usai menghadiri penanaman pohon bersama Apeksi di lapangan Sempur, Sabtu (6/3/2021).

Persoalan tantangan sosial ekonomi, sambung Arif hal itu perlu adanya dorongan yang kuat agar aktifitas-aktifitas ekonomi produktif dapat mensejahterakan masyarakat. Seperti urban farming lalu aktifitas anti stunting serta masalah keamanan pangan (food safety) para Pedagang Kaki Lima (PKL)

Dengan demikian, keamanan pangan telah menjadi keniscayaan karena konsumsi pangan hari ini akan menentukan nasib masyarakat 20 hingga 30 tahun kedepan. Hal itu juga berpengaruh terhadap pertumbuhan anak-anak.

Menurut Arif, keamanan dan kualitas pangan masyarakat kota itu sudah menjadi keniscayaan. Dimana kota-kota yang berada di Indonesia
hampir semuanya memiliki kampus yang otomatis mendukung kegiatan dan program serta visi para wali kota.

“Karena itu kita berusaha untuk berkolaborasi dengan para wali kota seluruh Indonesia. Sehingga kita betul-betuk bersinergi. Jika masalah perkotaan selesai, mudah-mudahan masyarakat Indonesia juga bisa kita selesaikan,” tuturnya.

Di sisi lain, pria kelahiran Pekalongan 49 tahun silam itu menambahkan persoalan pemulihan para pelaku Usaha Menengah Kecil Mandiri (UMKM) harus adanya terobosan yang luar biasa dengan bagaimana merumuskan sebuah desain untuk kenagkitan UMKM.

Kata dia, para pelaku UMKM kerap memiliki persoalan yang cukup kompleks yakni dalam akses finansial, teknologi serta permasalahan dalam memasarkan produk yang mereka buat. Dengan demikian, promosi terhadap produk UMKM, terlebih di era digital ini merupakan kesempatan untuk bangkit.

“Hadirnya bermacam-macam markerplace bisa diisi oleh produk-produk UMKM. Kita mengkhawatirkan kalau markerplace diisi oleh produk2-produk impor itu yang saya kira berbahaya dan menjadi kontra produktif,” kata alumnus
S3 Kagoshima University, Jepang, Department of Marine Social Science, 2006 itu.

Dirinya berharap, dengan adanya kolaborasi Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Apeksi menjadi aspek promosi dengan adanya peran para wali kota dengan memperkenalkan produk-produk UMKM dari wilayahnya masing-masing.

Sementara, Wali Kota Bogor sekaligus Ketua Apeksi, Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa pemulihan ekonomi telah terlihat di berbagai sektor terbukti adanya keseimbangan antara protokol kesehatan dan dimensi ekonomi.

“Tetapi yang utama adalah kesehatan tetap nomor satu, tidak mungkin ekonomi berjalan tanpa adanya protokol kesehatan,” ujarnya.

Dengan begitu, Bima meminta kepada pemerintah pusat agar serius mendorong dan memaksimalkan untuk potensi wilayah.

“Jadi Bogor kita maksimalkan tiga, pertama wisata alam, urban farming dan UMKM. Inilah yang kita minta pemerintah pusat seperti Menparekraf, diperindag UMKM agar dapat memfasilitasi potensi lokal tadi,” tuntasnya. (B. Supriyadi)