BANDUNG TODAY – Belum lama ini publik sempat dihebohkan dengan kisah Pasutri asal Gombong, Jawa Tengah yang melakukan mudik menuju kampungnya di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan berjalan kaki.

Mereka beralasan, hal itu dilakukan lantaran terkena imbas Pemutus Hubungan Kerja (PHK) di tempat kerjanya.

Baca juga : Trobos Pos Penjagaan, Pengendara Volkswagen Tabrak Polisi

Dilansir dari tribunnews.com, Senin (10/5/2021) ternyata pasutri yang bernama Masitoh Ainun (36) dan suaminya, Dani Rahmat (39) ini sudah setahun hidup di jalanan bersama kedua anaknya yang masih balita.

Baca juga : Nekat Tabrak Polisi, Pengendara VW Diamankan

Masitoh mengakui, dia tak mudik dari Gombong ke Cangkuang. Namun ia dan suami beserta kedua anaknya sengaja melakukan perjalanan untuk menghidupi keluarga.

“Mesin jahit diambil bos, jadi bingung kerjaan enggak ada. Jadi kami turun ke jalan yang penting ada buat makan,” ujar Masitoh seperti dikutip Tribunnews.com.

Baca juga : Larangan Mudik Bikin Sopir dan Kernet Bus Menjerit

Menurutnya, mereka sudah melakukan perjalananan sekitar satu pekan lalu dengan modal ongkos sebesar tujuh ribu rupiah dari Purwakarta ke Cikarang. Lalu, mereka menuju Cikampek, Karawang, Subang, Indramayu.

“Mulai dari Indramayu kami dapat tumpangan dinaikkan ke bus. Ditanya tujuannya mau ke mana, kalau sebutin jauh-jauh kasihan orang itu, jadi saya sebut yang dekat saja ke Tegal, ongkos Rp 100 ribu,” tuturnya.

Setelah sampai di Tegal, Masitoh dan keluarganya jalan ke Gombong, Jawa Tengah dan balik lagi ke tempat semula.

“Jadi muter, pergi dari utara, pulang lintas selatan,” akunya.

Menurutnya, dia telah melakukan perjalanan seperti itu sudah satu tahun lamanya. Bahkan, sudah keliling Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Masitoh menerangkan, selama satu tahun keliling, dia mengibaratkan jalan-jalan gratis, kalau tak ada tumpangan, jalan kaki dan melakukan istirahat jika menemui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bensin atau masjid.

Masitoh menyebut bahwa dirinya masih berstatus sebagai warga Lubuk Pakam, Medan, Sumatera Utara. Namun kartu identitasnya dan identitas suaminya hilang bersama tas yang hanya berisi pakaian saat berada di kawasan Cimahi.

“Padahal cuma baju saya, suami, dan anak serta surat-surat itu, KTP dan lainnya,” terangnya.

Dengan adanya kejadian viral tersebut, kakak dan orang tuanya menjadi syok. Bahkan kakaknya yang paling besar di Medan sampai darah tinggi.

“Setelah enggak ada penyekatan lagi, insyaallah, kami balik ke Medan. Mau ngurusin orang tua di sana,” ucapnya.(Tribunnews/B. Supriyadi).