Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMA Pesat School Of Talent)

PERISTIWA kurban banyak hikmah yang bisa kita ambil. Makna dari peristiwa kurban adalah ketaatan, keimanan, kecintaan yang luar biasa dari seorang Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS dan Siti Hajar terhadap Allah SWT melebihi yang lain. Serta merupakan contoh tauhid yang benar dan lurus.

Peristiwa kurban berupa penyembelihan Nabi Ismail AS oleh Nabi Ibrahim AS yang kemudian Nabi Ismail diganti seekor domba oleh Malaikat, adalah peristiwa yang luar biasa, menakjubkan, dan di luar akal manusia. Tapi kalau kita melihatnya dari kaca mata keimanan adalah benar adanya.

Makna berkurban juga berarti kita membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita. Manusia itu jika berperilaku jahat, maka dia lebih hina dari pada binatang, seorang koruptor itu lebih hina dari pada binatang, bagaimana tidak, karena seorang koruptor itu makannya semen, kayu, aspal, pasir, batu dan lainya. Sedang seekor sapi makannya hanya rumput.

Makna lain dari berkorban adalah kita memberikan yang terbaik dan yang kita cintai untuk kita korbankan. Maka seharusnya dalam hidup ini, kita berikan yang terbaik, bukan yang jelek yang tidak kita sukai.

Baca Juga :  Ulah Corona, 25 Ribu Warung Tegal di Jabodetabek Gulung Tikar

Dalam dunia kerja, kita juga harus memberikan yang terbaik, baik kita sebagai karyawan atau kita sebagai pemilik perusahaan. Atau yang lebih luas di negara, baik kita sebagai rakyat biasa atau sebagai pejabat negara. Dua-duanya harus memberikan yang terbaik sesuai fungsi dan kemampuan kita masing-masing.
Menurut HAMKA, “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”.

Artinya manusia memiliki akal yang bisa digunakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang menjadi haknya dan mana yang bukan.
Manusia seharusnya hidup bermanfaat bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain dan lingkungannya. Saat bekerja manusia juga seharusnya bukan saja melibatkan pikirannya tapi juga perasaannya. Supaya saat bekerja tidak menyakiti dan merugikan orang lain.

Lalu apa implementasi nilai berkurban pada pandemi Covid 19 ini? Oke mulai sekarang kita semua untuk memberikan yang terbaik untuk keberkahan NKRI sesuai fungsi dan kemampuan kita masing-masing. Jangan saling menyalahkan atau nyinyir, kita harus Salkomsel (Salam Kompak Selalu) dalam keadaan apapun, apalagi ini pada masa sulit dengan adanya pandemi Covid 19 yang sudah lebih dari satu tahun.

Baca Juga :  KLHK Gelontorkan Dana 1,3 Triliun Untuk Pengelolaan Limbah Medis

Saatnya kita memberi yang terbaik, baik kita sebagai rakyat biasa, eksekutif (Bupati/Walikota, Gubernur, Presiden dan Wapres), yudikatif (hakim, jaksa, pengacara), legislatif (DPRD II, DPRD I, DPR dan DPD), TNI, Polisi, ASN.

Jika kita punya harta, gunakan harta terbaik yang paling kita cintai itu untuk menolong saudara kita yang sedang terkena Covid 19. Misal kita punya motor, mobil, perhiasan atau rumah lebih dari satu dan tidak terpakai, mengapa tidak kita jual dan sedekahkan untuk kepentingan penanggulangan pandemi Covid 19.

Jika kita punya ide pemikiran, ya kita sampaikan dengan baik, santun, serta memberi solusi, bukan dengan menyalahkan pihak lain dan dengan bahasa yang provokatif.

InsyaAllah dengan semangat berkurban yaitu memberikan yang terbaik untuk NKRI, serta tetap menjaga Prokes (Protokol Kesehatan) dan Prokea (Protokol Keagamaan) Allah segera mengangkat pandemi Covid 19 dari muka bumi ini, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)