Ilustrasi penangkapan. Foto freepik.com

JAKARTA TODAY – Kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai membuat sebagian orang memanfaatkan dengan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Baru-baru ini, Polisi membekuk dua tersangka kasus penjualan obat Covid 19. Keduanya menimbun dan mematok harga di atas harga eceran tertinggi hingga empat kali lipat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyebu kedua tersngka berinisial MPP dan N, keduanya menjual jenis obat Oseltamivir 75 miligram (mg).

Baca juga : Begini Kondisi Nia Ramadhani Pasca Ditangkap

“Jadi MPP membeli obat tersebut dan menjual ke N dengan harga dua kali lipat. Setelah itu N menawarkan ke masyarakat melalui online,” kata Yusri, seperti dikutip CNN Indonesia.com, Jumat (9/7/2021).

Diketahui, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/4826/2021 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Dalam Masa Pandemi Covid-19, Oseltamivir 75 mg dijual dengan harga Rp26 ribu per kapsul.

Baca Juga :  Positif Narkoba, Pelaku Penimbun Alat Kesehatan Dijerat Pasal Berlapis

Baca juga : Matahari Kembali Keluarkan Lidah Api, SWPC : Setara Dengan Ledakan Jutaan Bom Hidrogen

Artinya, harga per 10 kotak berisi 10 kapsul semestinya dijual dengan harga Rp2,6 juta. Namun, para tersangka menjualnya Rp8,5 juta.

“Ini orang-orang yang menari-nari di atas penderitaan orang lain. Kami terus menyelidiki, masih banyak yang akan kita ungkap.  Kami akan cari dari hilir sampai ke hulu, kami dalami lagi distributor di atas yang main nakal,” ucap Yusri.

Baca juga : Besok, Kemenag Dijadwalkan Tentukan Sidang Isbat Idul Adha

Ulah para tersangka ini, katanya, mengakibatkan obat tersebut menjadi langka di pasaran lantaran diborong oleh para tersangka untuk meraup keuntungan.

“Dengan adanya ini harusnya obat-obat itu tersedia di tempatnya, di RS, di apotek berizin karena dibeli dalam jumlah besar, dijual melalui online dampaknya tempat yang seharusnya ada ini jadi enggak ada,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat.

Baca Juga :  Dua Bos PT ASA Ditetapkan Atas Kasus Penimbunan Obat Covid-19

Tak hanya itu, kata Tubagus, penjualan obat-obat seperti ini semestinya dilakukan oleh orang yang memiliki keahilan di bidangnya. Tujuannya, agar penggunaannya bisa diawasi.

“Kalau orang beli lewat online dan yang jual bukan yang punya keahlian, bagaimana dosisnya? Makanya UU mengatur nggak boleh dijual oleh orang yang tidak punya keahlian, karena dampaknya pada kesehatan,” kata Tubagus.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 107 junto Pasal 29 UU nomor 7 tahun 2014 Undang-Undag Nomor 8 tentang Perlindungan Konsumen dan UU ITE dengan ancaman hukuman pidana hingga 10 tahun penjara (dis/CNN/B. Supriyadi)