BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Sejumlah Hotel dan Restoran di kawasan Puncak,
Kabupaten Bogor terancam gulung tikar. Hal itu seiring kebijakan pemerintah terkait larangan masuk bagi kendaraan luar wilayah Bogor menuju Puncak guna menekan angka penularan Covid-19.

Wakil Ketua PHRI Kabupaten Bogor, Boboy menyebut, kondisi ini berimbas pada merosotnya omzet (pendapatan, red) hotel di kawasan Puncak. Bahkan, untuk membayar listrik pun Boboy mengaku kesulitan.

Dengan demikian, dirinya menyampaikan keluh kesahnya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor dengan harapan hotel dan restoran di kawasan berhawa sejuk itu mendapat kebijakan dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Baik dalam aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga relaksasi pajak.

Baca Juga :  Sub Komando Garnisun Bogor Peringati HUT TNI dengan Berbagi Sembako

Kata Boboy, langkah itu dilakukan lebih elegan dibanding dengan memasang bendera putih di hotel-hotel dan restoran seperti yang terjadi di luar Bogor belakangan ini.

“PHRI Kabupaten Bogor tidak mau memasang bendera putih tanda protes atau menyerah dengan situasi saat ini,” ujar Boboy, Selasa (3/8/2021)

Hal senada juga diungkapkan Ketua PHRI Kabupaten Bogor Budi Sulistyo. Budi mengaku merasa terancam dengan aturan PPKM Jawa – Bali. Dirinya meminta Pemkab Bogor dapat melayangkan surat kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk melonggarkan kebijakan pemutusan listrik.

Baca Juga :  Padepokan Titisan Citra Komara Cimande Lahir Sejak 1967

“Jika melewati tanggal yang sudah ditentukan jaringan listrik ke hotel dan restoran diputus. Nanti imbasnya kepada karyawan,” kisahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Bogor, Deni Humaedi mengungkapkan bahwa kondisi saat ini terbilang berat. Meski demikian peluang untuk bangkit masih ada.

“Ikuti ketentuan yang ada. Mudah-mudahan kasus terkonfirmasi Covid-19 menurun, sehingga
pariwisatapun khususnya yang terkait dengan pariwisata dan akomodasi bisa bangkit perlahan,” tutupnya. (B. Supriyadi)