Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMA Pesat School Of Talent)

UU Nomor 5 tahun 2018 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi UU. Dalam UU ini, terorisme diartikan sebagai perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau

fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik atau gangguan keamanan.
Apakah Taliban teroris? Banyak pihak menganggap gerakan pelajar Muslim ini berjasa dalam mengusir pasukan Uni Soviet dari Afghanistan selama Perang 1979-1989.

Tuduhan teroris itu, karena menerapkan syariat Islam kaku: melarang perempuan ke luar rumah tanpa didampingi mahram. Kebanyakan orang menganggap Taliban teroris kalau ingat peristiwa penembakan terhadap Malal Yusafzai pada Oktober 2012. Waktu itu gadis Afghanistan ini baru berumur 15 tahun dan ditembak bagian kepalanya dalam bus sepulang ujian sekolah, karena sering mengkritik Taliban.

Dan alhamdulllah Malal Yusafzai selamat dan masih hidup. Pada bulan Oktober 2014, Malala bersama Kailash Satyarthi mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian atas perjuangan mereka melawan penindasan anak-anak dan pemuda serta untuk mendapatkan hak pendidikan bagi mereka.

Baca Juga :  Kapten Mirza, Pilot Pesawat Rimbun Air yang Jatuh di Papua Warga Bogor yang Dikenal Supel

Namun terminologi teroris selalu subjetif, tergantung kepentingan sebuah negara atau pihak tertentu. Bagi Amerika Serikat (AS) saat ini, Taliban mungkin saja organisasi teroris lantaran lebih dari empat ribu tentaranya tewas sejak menginvasi Afghanistan atas alasan membumihanguskan Al-Qaidah bersarang di negeri itu.

Hingga akhirnya negara adikuasa ini mulai menarik pasukannya dari Afghanistan sedari 1 Mei lalu berdasarkan kesepakatan Doha dicapai pada Februari 2019. Kenyataannya, pendudukan Amerika di Afghanistan sejak 2001 sama dengan invasi dilakoni Uni Soviet. Alhasil, Taliban pun memerangi Amerika karena menganggap mereka sebagai penjajah.

Apakah sebuah gerakan perlawanan rakyat di sebuah negara terhadap pendudukan pasukan asing bisa dianggap sebagai kelompok teroris? Apakah Taliban bercita-cita membangun pemerintahan Islam inklusif di negaranya sendiri, dapat dikategorikan sebagai teroris?

Taliban bukan berambisi mendirikan khilafah dunia seperti mimpi ISIS. Taliban tidak berniat membuat cabang-cabang milisi di berbagai negara seperti dilakukan Al-Qaidah. Taliban menegaskan pula tidak akan mengekspor ideologi negara Islam ke negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, termasuk Indonesia.

Padahal ketika Taliban berjuang menghadapi penjajahan Uni Soviet, AS juga ikut mendukung. Keberadaan pasukan AS di Afghanistan selama ini malah telah memicu perang saudara antara pasukan pemerintah Kabul dibantu koalisi internasional dipimpin AS menghadapi Taliban.

Baca Juga :  Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention dan Batik Danar Hadi berkolaborasi dalam rangka Memperingati Hari Batik Nasional

Apalagi Taliban sekarang sudah berevolusi. Juru bicara Taliban Suhail Syahin menegaskan pemerintahan Islam akan mereka dirikan menghormati hak-hak perempuan. Mereka boleh bersekolah, bekerja, mengendarai sepeda motor, atau menyetir mobil asal berjilbab (tidak wajib bercadar).

Dengan kata lain, Taliban sekarang sudah berubah, tetap memakai Syariat Islam, tapi lebih moderat dan bisa diajak bermusyawarah, terbukti, terjadinya perjanjian perdamaian dengan AS, Pakistan dan pemerintah Afghanistan.

Penaklukan Taliban di Afghanistan mirip saat Rasulullah menaklukkan Mekkah, penaklukan Kabul oleh Taliban tanpa pertumpahan darah. Kemiripan lainnya adalah Taliban memberikan pengampunan pada rakyat Afghanistan, layaknya Rasulullah yang memaafkan musuh-musuhnya saat menaklukkan Mekkah.

Jadi jelas kan bahwa Taliban bukan teroris, seperti yang difitnahkan selama ini, justru yang teroris itu AS. Selama ini AS yang ngebom Hiroshima dan Nagasaki, serta menginvasi di Vietnam, Korea, Afghanistan dan selalu ikut campur urusan dalam negeri negara lain.
Dan AS keok dalam perangnya dengan negara-negara tersebut, AS hanya menang perang di film Rambo. Jayalah Indonesiaku. (*)