Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

MENURUT Pusat Bahasa Depdiknas, pengertian karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Sedangkan berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”.

Mengapa penulis menulis opini berjudul “Harusnya Timses Jokowi Belajar Karakter Pada Bung Hatta” karena apa yang dilakukan Timses (Tim Sukses) Jokowi bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Bung Hatta pada waktu itu.

Selepas Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden (Wapres). Seorang Bung Hatta juga punya karakter dan adab yang baik.

Inilah contohnya, mantan Wapres pertama Indonesia itu harus harus berjuang susah payah untuk membayar tagihan listrik rumahnya. Selain keteteran membayar listrik dan air, Bung Hatta bahkan tidak mampu melunasi pajak mobil dan tagihan biaya telepon di rumahnya.

Tapi terlepas dari kondisi perekonomian itu, mungkin penyebab utama kesulitan ekonomi Bung Hatta di masa pensiunnya adalah karena dia adalah sosok yang terlalu jujur dan tidak pernah berupaya memperkaya diri sewaktu menjadi Wapres.

Di samping itu, sebetulnya ada banyak perusahaan asing yang menawari dirinya menjadi komisaris utama, tapi semuanya ditolak, apa alasannya? “Apa kata rakyat nanti?”

Baca Juga :  Bupati  Bogor Ade Sebut Jalan Dua Desa di Kabupaten Bogor Bakal Diperlebar

Sedikit banyak keputusan Hatta untuk mundur sebagai Wapres adalah bentuk protes kepada banyak kebijakan Bung Karno yang ia nilai merugikan masyakarat. Dalam perspektif itu, Bung Hatta khawatir rakyat akan berpikiran buruk dan menuduh dia mundur dari jabatan Wapres untuk kepentingan bisnis dan bukan murni sebagai lambang kecintaannya kepada NKRI.

Keren kan karakter dari Bung Hatta, sederhana, hatinya bersih, jujur, istiqomah dalam jalan yang lurus, tidak aji mumpung dan cinta dengan NKRI.

Bandingkan sekarang dengan Timses Jokowi yang menjadi Timses dengan imbalan menjadi komisaris di BUMN, Staf Khusus Presiden, Staf Khusus Menteri sampai menjadi Wamen (Wakil Menteri). Timses Jokowi yang diangkat sebagai komisaris BUMN adalah:

1. M. Arief Rosyid Hasan, menjadi Komisaris Independen di Bank Syariah Indonesia,
2. Rizal Malaranggeng, sebagai komisaris PT Telekomunikasi Indonesia
3. Lukman Edy, sebagai wakil komisaris PT Hutama Karya
4. Zulnahar Usman, sebagai komisaris PT BRI.
5. Arya Sinulingga, sebagai komisaris PT Inalum
6. Arif Budimanta, sebagai komisaris PT Bank Mandiri.
7. Irma Suryani Chaniago, sebagai komisaris independen PT Pelindo I.
8. Dudy Purwagandhi, sebagai komisaris PT PLN.
9. Fadjroel Rachman, sebagai komisaris PT Waskita Karya.
10. Andi Gani Nena Wea, sebagai presiden komisaris BUMN di PT PP.
11. Ulin Ni’am Yusron, sebagai komisaris ITDC.
12. Eko Sulistyo, sebagai komisaris PLN.
13. Dyah Kartika Rini, sebagai komisaris independen Jasa Raharja.
14. Kristia Budiarto, menjadi Komisaris Independen PT Pelni.
15. Zuhairi Misrawi, sebagai komisaris independen PT Yodya Karya.
16. Victor S Sirait, sebagai komisaris di Waskita Karya.
17. Paiman Raharjo, sebagai Komisaris PGN.
18. Dwi Ria Latifa, komisaris PT BRI.
Nah para anggota Timses ini, belum tentu profesional dan kompeten sebagai komisaris, stafsus dan wamen.

Baca Juga :  Kapten Mirza, Pilot Pesawat Rimbun Air yang Jatuh di Papua Warga Bogor yang Dikenal Supel

Nabi SAW bersabda, “Apabila sebuah urusan/pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka bersiaplah menghadapi hari kiamat” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud hadits ini bahwa bila sebuah tugas yang berkaitan dengan orang banyak, baik dalam urusan dunia maupun agama diemban orang yang tidak memiliki keahlian di bidang tersebut, ini pertanda hari kiamat sudah dekat.

Tidak dapat dibayangkan, jika sebuah pekerjaan, dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, ngeri, tunggu kehancurannya. Semoga Yang Terhormat Bapak Presiden RI Haji. Ir. Joko Widodo dan Timsesnya segera menyadari akan hal ini. Jayalah Indonesiaku. (*)