ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN TIDAK PERLU MODERASI BERAGAMA

Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem mengingatkan pentingnya moderasi agama dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun, saya kurang setuju dengan program moderasi beragama yang menurut saya terkesan memerangi paham radikalisme atau ekstrem di sekolah.

Memangnya kenapa? Memangnya sekolah sarang radikalisme? Tapi untuk mencegah sih tidak apa-apa. Namun apa tidak ada pekerjaan yang lebih penting?

Baca Juga :  Menang Dalam Pilkades, TB Eman : Saatnya Bersama Membangun Desa Nembol

Menurut penulis kurang setuju, inilah alasannya, secara bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah moderasi berakar dari kata sifat “moderat” yang berarti selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem.

Dengan demikian secara mudah pengertian dari moderasi beragama khususnya agama Islam adalah Islam moderat. Islam moderat itu kadang mencampur yang halal dengan yang haram.

Atau membiarkan kemaksiatan yang terjadi di masyarakat. Dulu ada Jaringan Islam Liberal (JIL), yang terang-terangan Islam bergaya liberal. Karena JIL tidak laku dan banyak ditentang umat, maka timbullah Islam Nusantara.

Baca Juga :  Viral Perempuan Muda Remas Payudara Beredar di Twitter, Warganet : Kalah Sama yang 21 Detik

Islam Nusantara ini secara perdana resmi diperkenalkan oleh  Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.

Halaman:
« 1 2 | Selanjutnya › » Semua