BOGOR-TODAY.COM – Tahun baru Islam 1445 H merupakan momen penting sehingga dirayakan dengan meriah, berbagai daerah memiliki tradisi perayaan yang khas dan meriah. Tradisi ini merupakan bentuk syukur penuh suka cita yang memiliki makna dan harapan di tahun yang akan datang membawa keberkahan.
Bulan Muharram merupakan bulan pertama di dalam kelender Hijriyah. Dilansir dari detikhikmah, terdapat banyak dalil yang menjelaskan keutamaan pada bulan Muharram. Salah satunya disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 36:
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah itu ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
Ada banyak tradisi dalam memeriahkan tahun baru Islam di Indonesia, adapun tradisi yang kerap dilakukan di Indonesia, antara lain.
Pernah melihat arak-arakan pawai obor? Nah, di malam tahun baru Islam umat muslim biasanya merayakannya dengan melakukan pawai obor. Biasanya, masyarakat dari berbagai kalangan dengan kompaknya berpakaian muslim sambil berpawai memegang obor.
Umumnya, tradisi ini dilakukan keliling desa atau kampung untuk merayakan tahun baru hijriyah. Tak hanya itu, masyarakat melantunkan solawat serta pujian kepada Rasulullah SAW sambil berpawai memegang obor.
- Bubur Suro
Pernah mendengar istilah malam satu suro? Malam ini merupakan malam 1 Muharram atau tahun baru Islam. Biasanya masyarakat Jawa Barat dan beberapa daerah di Jawa Tengah menyambut Tahun Baru Islam dengan menggelar Upacara Bubur Suro.
Secara bergotong royong masyarakat menyiapkan bubur merah dan bubur putih. Kemudian kedua bubur ini disajikan secara terpisah, lalu dibawa ke masjid untuk disantap bersama-sama. Makna yang bisa kita dapat dari tradisi bubur suro ini adalah untuk menjalin dan mempererat tali silaturahmi.
- Kirab Kebo Bule
Beberapa daerah di Jawa menggelar tradisi 1 Suro, termasuk di Solo. Tercetusnya tradisi 1 suro di Jawa berawal dari Sultan Agung yang menyebarkan agama Islam melalui ajaran dengan tradisi Jawa. Setiap malam 1 Suro di Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah akan digelar kirab kebo bule yang menjaga pusaka milik Kiai Slamet, tradisi ini juga dikenal dengan nama Kirab Muharram.
- Tapa Bisu
Lain halnya dengan perayaan tahun baru Islam di Solo, untuk masyarakat Yogyakarta memiliki tradisi Tapa Bisu yang digelar pada 1 Muharram dalam perayaan penting umat muslim ini. Tradisi ini merupakan ritual keliling benteng keraton.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















