Akhir Pancaroba, BMKG Prediksi Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan

BMKG
Ilustrasi hujan.

BOGOR-TODAY.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geologi (BMKG) memprakirakan hujan bakal kembali mengguyur wilayah Jabodetabek pekan ini.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya mengungkap bahwa November menjadi awal musim hujan di sejumlah daerah di Indonesia.

Dwikorita mengatakan awal musim hujan umumnya berkaitan dengan peralihan angin timuran dari arah Australia atau disebut monsoon Australia menjadi angin baratan atau monsoon Asia atau angin yang berasal dari arah benua Asia.

“Jadi akan terjadi pergantian saat ini yang berpengaruh angin dari Australia, gurun Australia, yang saat ini sedang musim dingin dan kering,” kata Dwikorita beberapa waktu lalu.

Khusus di Pulau Jawa, berdasarkan Analisis Iklim BMKG ‘Prakiraan Musim Hujan 2023/2024 di Indonesia’, 117 ZOM mulai dapat hujan di November 2023 dasarian I-III, 54 ZOM di Desember 2023 dasarian I-III, dan dua ZOM di Januari 2024 dasarian I.

BACA JUGA :  Dinar Candy Syukuran Rumah Ketiga di BSD, Ungkap Perjuangan dan Rahasia Kelola Keuangan

BMKG memprediksi puncak musim hujan 2023/2024 di Pulau Jawa terjadi mulai Desember 2023 hingga Februari 2024.

Khusus untuk wilayah Jabodetabek, lembaga ini memperkirakan musim hujan tiba mulai November. Contohnya, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan mulai hujan pada dasarian (10 hari) kedua November.

“Masih belum masuk musim hujan, namun sudah indikasi mengarah akhir Pancaroba,” ungkap Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

Pada Prospek Cuaca Seminggu ke Depan periode 7 hingga 13 November, BMKG mengungkap pengaruh aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator yang diprakirakan aktif di Sumatra barat, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, dan Papua bagian selatan dalam sepekan ke depan.

BACA JUGA :  Kehadiran Puluhan Robot Baru di Pabrik GM Picu Kekhawatiran Pekerja Setelah Gelombang PHK

Ada pula efek gelombang atmosfer Kelvin yang terpantau berada di Sumatra Utara, Sulawesi kecuali Gorontalo dan Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Tak ketinggalan, ada efek bibit siklon tropis 94W terpantau di perairan utara Papua Barat dan sirkulasi siklonik yang terpantau di perairan utara Kalimantan yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Selat karimata hingga Kalimantan Utara.

“Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah sirkulasi siklonik, maupun di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut,” tutur BMKG.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================