
BOGORTODAY.COM – Para astronom terus memantau dan mempelajari ancaman asteroid yang berpotensi menghantam Bumi, termasuk asteroid Apophis.
Apophis, yang memiliki ukuran setara dua gedung besar, baru-baru ini menarik perhatian karena lintasannya mendekati Bumi dengan jarak sekitar 30.600 kilometer, jarak yang tergolong dekat dalam ukuran astronomi.
Meskipun peluang tabrakan dengan Bumi pada tahun 2029 sangat kecil—disebut hanya 1 berbanding sejuta—ancaman ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapan global terhadap potensi tumbukan asteroid di masa depan.
Menurut Paul Wiegert, seorang astronom dari University of Western Ontario, meskipun lintasan asteroid cenderung stabil, ada kemungkinan kecil tumbukan dengan objek lain di luar angkasa dapat mengubah jalur Apophis.
Hal ini, meskipun tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, tetap menjadi bahan kajian para ilmuwan.
Sebagai pembanding, sejarah mencatat asteroid Chicxulub—dengan diameter 10-15 kilometer—yang menghantam wilayah Meksiko sekitar 65 juta tahun lalu, mengakibatkan punahnya 70% spesies di Bumi, termasuk dinosaurus. Chicxulub menjadi pengingat nyata akan dampak bencana kosmik semacam ini.
Saat ini, tata surya dipenuhi oleh jutaan asteroid yang melintas, meskipun hanya sebagian kecil yang memiliki lintasan dekat Bumi.
Jika sebuah asteroid besar menabrak, ia dapat menembus atmosfer dengan kecepatan hingga 60.000 kilometer per jam, menyebabkan ledakan dahsyat yang menguapkan segala sesuatu di area dampaknya.
Menurut Leviticus “L.A.” Lewis, pakar dari Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA), respons terhadap ancaman asteroid memerlukan koordinasi internasional yang belum sepenuhnya dipetakan.
“Kita harus mulai mendiskusikan langkah konkret untuk mengoordinasikan upaya besar ini,” ujar Lewis, seraya menambahkan bahwa pertanyaan seperti siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana koordinasinya masih menjadi tantangan.
Strategi NASA dan Kolaborasi Global
NASA, melalui Kantor Koordinasi Pertahanan Planet (PDCO), telah merancang beberapa pendekatan, termasuk:
- Evakuasi Wilayah Dampak: Identifikasi zona potensi tumbukan untuk meminimalkan korban.
- Upaya Pembelokan Asteroid: Mempelajari komposisi asteroid untuk menentukan metode pembelokan.
- Pemantauan Intensif: Menggunakan teleskop untuk mempelajari karakteristik asteroid dan lintasannya secara detail.
“Asteroid dengan komposisi padat, berbatu, atau berupa tumpukan puing akan berperilaku berbeda selama upaya pembelokan maupun saat tumbukan,” ujar Lindley Johnson, petugas pertahanan planet emeritus NASA.
Dampak asteroid adalah satu-satunya bencana alam yang dapat diprediksi bertahun-tahun sebelumnya, memungkinkan umat manusia untuk mengambil tindakan pencegahan.
Namun, hingga kini, banyak aspek teknis dan operasional yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut, termasuk mekanisme pembelokan asteroid atau strategi mitigasi lainnya.
Dalam menghadapi ancaman seperti Apophis, kerja sama global menjadi kunci. PBB, bersama organisasi ilmiah internasional, diharapkan dapat memimpin upaya koordinasi ini.
“Kredibilitas dan keterlibatan internasional harus dibangun sekarang, sebelum ancaman nyata terjadi,” pungkas Lewis.
Potensi tabrakan asteroid mungkin terdengar seperti skenario film fiksi ilmiah, tetapi sejarah dan data ilmiah mengingatkan kita bahwa ini adalah ancaman yang nyata.
Meskipun Apophis diprediksi tidak akan menabrak Bumi, kesiapan umat manusia menghadapi bencana semacam ini tetap menjadi tanggung jawab bersama.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















