Menghadapi Peningkatan Kasus HIV, Klinik Eastwood Filipina Perkenalkan Pengujian Tanpa Stigma

Menghadapi Peningkatan Kasus HIV, Klinik Eastwood Filipina Perkenalkan Pengujian Tanpa Stigma

BOGORTODAY.COM – Di pusat perbelanjaan di Manila, terdapat sebuah ruang tunggu yang nyaman di lantai tiga yang menyajikan suasana santai dan tidak biasa. Pria dan wanita muda duduk di sofa biru muda yang mewah, di samping meja yang dihiasi kondom, beberapa di antaranya beraroma cokelat.

Di samping itu, terdapat pelumas yang disusun rapi dan pamflet kecil yang menawarkan tips untuk menjaga hubungan seksual yang menyenangkan dan aman. Ini bukan pemandangan yang biasa ditemui di klinik kesehatan, namun di Klinika Eastwood, kenyamanan ini sengaja diciptakan.

Meningkatkan Akses Pengujian HIV dan IMS

Dr. Jeremy Jordan Castro, petugas medis di Klinik Eastwood, menjelaskan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk menormalkan pengujian HIV dan infeksi menular seksual (IMS) sebagai bagian dari perawatan kesehatan rutin.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap pengujian HIV dan IMS, agar tidak dianggap tabu. Dengan kemajuan pengobatan dan teknologi, HIV kini dapat ditangani layaknya kondisi kronis lainnya, seperti hipertensi atau diabetes,” ungkap Castro kepada DW.

Sebagian besar layanan di klinik ini, termasuk pemeriksaan IMS dan pengobatan untuk mencegah HIV sebelum atau setelah paparan berisiko, disediakan secara gratis. Selain itu, konseling diberikan oleh tim medis yang beragam gender, menjamin privasi dan kenyamanan pasien.

Upaya Pemerintah Filipina Melawan Stigma dan Meningkatkan Pengujian HIV

Klinika Eastwood merupakan bagian dari upaya pemerintah Filipina untuk menghilangkan stigma terkait perawatan kesehatan seksual. Selain itu, klinik ini juga berusaha mendorong lebih banyak orang untuk melakukan pengujian HIV dan mendapatkan perawatan yang tepat.

Ini menjadi hal yang sangat penting mengingat tingkat infeksi HIV yang meningkat pesat di negara tersebut.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Tegaskan Skywalk Tegar Beriman Simbol Kolaborasi dan Infrastruktur Inklusif

Menurut laporan UNAIDS yang dirilis awal bulan ini, Filipina mengalami lonjakan mengejutkan sebesar 543% dalam infeksi HIV baru antara 2010 hingga 2023.

Meskipun Filipina masih tergolong negara dengan tingkat insiden HIV rendah, Departemen Kesehatan Filipina (DOH) memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHA) dapat melonjak menjadi 448.000 pada tahun 2030.

Kaum Muda Tergolong Paling Rentan

Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan adalah tingginya jumlah infeksi baru di kalangan kaum muda.

Hampir setengah dari infeksi baru yang terdeteksi pada 2024 terjadi pada individu berusia 15 hingga 24 tahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), yang mencatatkan 89% dari total infeksi.

“Kami melihat tingkat infeksi yang mengingatkan kita pada puncak krisis AIDS di New York atau San Francisco pada 1980-an,” ungkap Benedict Bernabe, kepala kelompok advokasi dan kesadaran HIV The Red Whistle.

Dia menekankan perlunya sumber daya kesehatan yang lebih banyak dan intervensi yang lebih efektif, terutama untuk kelompok yang paling berisiko.

Pentingnya Pengujian Dini dan Akses Informasi yang Tepat

Salah satu tantangan terbesar adalah tingginya angka diagnosis terlambat. Di Filipina, satu dari tiga orang yang hidup dengan HIV baru terdiagnosis pada stadium lanjut, seringkali setelah infeksi yang lebih serius, seperti tuberkulosis atau pneumonia. Pada 2023, sekitar 1.700 kematian terkait AIDS terjadi akibat diagnosis yang terlambat.

Padahal, pengobatan seperti profilaksis pra-pajanan dan pasca-pajanan yang tersedia secara gratis di klinik-klinik pemerintah dapat mencegah penularan HIV. Namun, data pemerintah menunjukkan hanya 13% dari populasi berisiko yang mengetahui tentang profilaksis pra-pajanan, dan hanya 60% yang mengetahui bahwa tes HIV gratis.

BACA JUGA :  7 Ciri Orang Berjiwa Tua, Lebih Menyukai Makna Hidup daripada Tren Sesaat

Menghadapi Stigma dan Misinformasi

Peningkatan infeksi HIV yang cepat di kalangan pemuda juga mencerminkan rendahnya tingkat kesadaran tentang HIV. Banyak kelompok, seperti wanita transgender (TGW) dan pekerja seks wanita (FSW), yang memiliki pengetahuan sangat rendah tentang HIV, dengan angka kesadaran hanya sekitar 30%.

Elena Felix, seorang wanita yang telah hidup dengan HIV selama 30 tahun, mengatakan bahwa stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV masih sangat kuat di Filipina.

Felix, yang kini menjadi pendukung hak-hak pengidap HIV, memimpin Association of Positive Women Advocates Inc. (APWAI) dan berjuang untuk memberantas stigma yang menganggap HIV sebagai hukuman.

“Sangat penting untuk mengubah pola pikir yang menyalahkan korban. HIV bukanlah hukuman mati. Ini adalah penyakit yang dapat dikelola,” ujarnya.

Jalan Masih Panjang

Meski ada kemajuan dalam pengobatan dan peningkatan akses ke layanan kesehatan, jalan masih panjang untuk mengurangi angka infeksi HIV dan menghilangkan stigma yang ada di masyarakat Filipina.

Pemerintah dan organisasi masyarakat sipil terus bekerja untuk memberikan informasi yang akurat, meningkatkan pengujian, dan memastikan bahwa setiap individu yang terinfeksi HIV dapat hidup dengan kualitas hidup yang baik.

Klinika Eastwood menjadi salah satu contoh bahwa kenyamanan dan aksesibilitas dalam pengujian HIV dapat membantu menanggulangi stigma dan mendorong lebih banyak orang untuk melakukan tes dan mendapatkan pengobatan.

Diharapkan, dengan adanya upaya semacam ini, Filipina dapat menurunkan angka infeksi HIV dan memberikan perawatan yang lebih baik bagi orang yang hidup dengan HIV.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================