
BOGORTODAY.COM – Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Bogor memilih untuk tetap bekerja daripada mengikuti aksi demonstrasi yang menuntut Tunjangan Hari Raya (THR) kepada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Mereka menilai tuntutan tersebut tidak akan membuahkan hasil.
Salah satu pengemudi ojol, Dede (30), menilai aksi tersebut sia-sia dan tidak menjadi prioritas utama bagi para mitra pengemudi.
“Kalo kata saya mah sia-sia, apalagi masih banyak yang lebih penting,” ujar Dede, Senin (16/2/2025).
Menurut Dede, pekerjaan sebagai mitra ojol berbeda dengan karyawan perusahaan yang memiliki jam kerja tetap. Ia berpendapat bahwa pengemudi yang menginginkan THR seharusnya bekerja di perusahaan sebagai karyawan tetap.
“Kalau mau THR ya kerja di pabrik, jadi karyawan PT Goto, bukan mitranya,” katanya.
Dede juga menekankan bahwa seharusnya para pengemudi fokus memperjuangkan pengurangan potongan biaya dari aplikator, yang menurutnya lebih berdampak pada kesejahteraan mereka.
“Enggak usah THR dulu, yang penting potongan biaya dikurangi jadi 10 persen kayak dulu. Kalau potongan di bawah 20 persen, jadi 15 atau 10 persen, kita sudah merasa merdeka,” jelasnya.
Hal senada disampaikan pengemudi ojol lainnya, Eka (42), yang menilai tuntutan THR tidak relevan karena status pengemudi ojol adalah mitra, bukan karyawan tetap.
“Kita kan statusnya mitra, jadi menurut saya tidak masuk akal,” ujarnya.
Namun, Eka mendukung penghapusan sistem yang dianggap merugikan pengemudi, seperti sistem slot dan aceng yang mempengaruhi tarif dan potongan penghasilan mereka.
“Kalau sistem slot itu, misalnya kita kerja dengan hasil segini, potongannya bisa membuat ongkos dari Rp10 ribu jadi Rp5 ribu,” pungkasnya. ***
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















