Menara Air “Jamur Raksasa” Jadi Ikon Kota Klaten

Menara Air "Jamur Raksasa" Jadi Ikon Kota Klaten

BOGORTODAY.COM – Di tengah semakin padatnya perkotaan Klaten, sebuah bangunan tinggi menjulang yang unik berdiri kokoh di Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara. Bangunan tersebut menjadi salah satu ikon kota Klaten yang mencuri perhatian banyak orang.

Meski terlihat seperti jamur raksasa dari kejauhan, bangunan ini bukanlah tugu atau monumen, melainkan sebuah menara air yang dimiliki oleh PDAM Tirta Merapi Kabupaten Klaten.

Menara ini memiliki bentuk yang menyerupai jamur atau corong raksasa, dengan warna asli plesteran semen yang menghitam karena tidak dicat.

Sigit Setiawan Bimantoro, Direktur Teknik PDAM Tirta Merapi, menjelaskan bahwa bangunan tersebut adalah reservoir balance atau penampung air yang berfungsi untuk mendistribusikan air ke masyarakat Klaten.

“Memang menyerupai jamur atau corong raksasa, tapi itu reservoir (penampungan air) balance,” ungkap Sigit.

Pembangunan menara air ini dimulai pada sekitar tahun 1980 dan selesai pada tahun 1985. Proyek ini dikerjakan oleh Departemen Pekerjaan Umum (PU) Republik Indonesia. Dengan konstruksi beton bertulang, menara ini memiliki ketinggian 47 meter dan kapasitas penampungan air 1.000 meter kubik.

Fungsi utama menara ini adalah untuk memenuhi kebutuhan air pelanggan di Kota Klaten, terutama pada jam-jam puncak di pagi dan sore hari.

BACA JUGA :  Waspada Teror Pocong di Cibinong, Camat Minta Siskamling Digencarkan

“Fungsinya untuk memaksimalkan pelayanan pelanggan di kota yang jumlahnya sekitar 10.000. Namun karena sekarang sudah 20.000 sambungan, fungsinya tidak optimal,” tambah Sigit.

Meski kini menara air tersebut sudah berusia lebih dari 30 tahun, PDAM Tirta Merapi masih mengoperasikannya, meski dengan beberapa kendala.

“Kita sedang cari cara untuk optimalisasi pelayanan. Rencananya akan mengambil air dari Karanglo, Kecamatan Polanharjo, untuk pemenuhan kebutuhan air di kota,” ujar Sigit.

Menara ini sudah terbukti kokoh, meskipun Klaten sempat diguncang gempa pada tahun 2006. “Konstruksinya masih kuat dan saat gempa tidak ada kerusakan,” tambah Sigit.

Saat detikJateng mengunjungi lokasi, menara air ini terletak di lahan seluas 2.215 meter persegi yang dipagar rapi oleh PDAM. Di sekitar menara, kawasan tersebut kini sudah mulai berkembang menjadi permukiman penduduk. Beberapa gang di sekitar menara diberi nama Gang Menara Air, sebagai penghormatan terhadap keberadaan menara yang sudah berdiri lama di desa tersebut.

Hery, Kepala Dusun 1 Desa Jonggrangan, mengungkapkan bahwa menara ini sering disebut sebagai menara jamur atau payung oleh warga setempat karena bentuknya yang khas. “Dinamakan gang Menara Air karena ada bangunan menara tersebut. Dibangun sekitar tahun 1980-an,” kata Hery.

BACA JUGA :  Kemensos Usulkan Lansia dan Disabilitas Masuk Program MBG

Keberadaan menara ini tidak hanya penting bagi kebutuhan air warga Klaten, tetapi juga memberi ciri khas tersendiri bagi desa Jonggrangan. Banyak warga setempat yang merasa bangga dengan menara ini, karena selain menjadi bagian dari sejarah, menara tersebut juga menjadi penanda penting dalam perkembangan wilayah sekitar.

Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Klaten, kebutuhan air juga semakin meningkat. Untuk itu, PDAM Tirta Merapi terus berupaya melakukan optimalisasi pelayanan agar kebutuhan air di Klaten dapat dipenuhi dengan baik. Menara air yang berbentuk unik ini pun menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut.

Dengan desain yang mencolok dan fungsi yang sangat vital, menara air ini bukan hanya sekadar infrastruktur publik, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas Kota Klaten yang terus berkembang.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================