
BOGORTODAY.COM, LONDON – Keluarga korban kecelakaan pesawat Air India nomor penerbangan 171 telah menerima laporan awal insiden tersebut, namun justru merasa bingung dengan isi laporan. Data dari dalam pesawat menunjukkan bahwa dua sakelar pengatur bahan bakar tiba-tiba berpindah dari posisi “run” ke “cut-off” hanya beberapa detik setelah pesawat tinggal landas.
Sakelar itu biasanya hanya dinonaktifkan setelah pesawat mendarat di bandara dan berhenti di gerbang, atau jika terjadi keadaan darurat. Namun, laporan awal dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) tidak menjelaskan apakah situasi darurat benar-benar terjadi saat itu.
Perpindahan sakelar tersebut menyebabkan mesin pesawat kehilangan tenaga, sebagaimana disampaikan dalam laporan AAIB yang dirilis pada Jumat, 11 Juli. Menanggapi hal ini, keluarga korban menyatakan bahwa laporan itu masih belum lengkap dan mereka belum merasa tenang sebelum ada pertanggungjawaban dari pihak yang terkait.
“Ini memang membawa kita sedikit lebih dekat untuk memahami apa yang terjadi. Saya ingin mendapatkan penyelesaian,” ujar Ria Patel, cucu dari Manju Mahesh Patel, salah satu korban dalam insiden tersebut.
Sementara itu, Dr. Mario Donadi, rekan dari korban lain yaitu Prateek Joshi, menyebut temuan awal sebagai “tamparan keras.” Joshi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Inggris bersama keluarganya, sempat mengambil foto bersama istri dan ketiga anaknya sesaat sebelum pesawat mengudara.
“Bagaimana mungkin sesuatu yang sepele seperti sakelar sederhana yang dinonaktifkan menyebabkan hilangnya nyawa, impian yang begitu besar?” tanya Donadi.
Juru bicara Departemen Transportasi Inggris mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah Inggris akan menelaah laporan tersebut secara mendalam, dan akan mempertimbangkan apakah perlu diambil tindakan lebih lanjut. Adapun laporan akhir kecelakaan ini diperkirakan baru akan selesai dalam waktu satu tahun.
Dalam rekaman suara kokpit, terdengar seorang pilot mempertanyakan kepada rekannya, “Mengapa mematikan bahan bakar?”
Pilot lainnya lantas menjawab, ia “tidak melakukannya,” menurut isi laporan itu.
Sayangnya, laporan tersebut tidak menyebutkan secara jelas siapa yang mengatakan pernyataan itu, apakah kapten atau kopilot, dan juga tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan seruan darurat “Mayday, Mayday, Mayday” sebelum kecelakaan terjadi.
Di tempat kejadian, kedua sakelar bahan bakar ditemukan dalam posisi “run”, dan laporan itu menunjukkan bahwa kemungkinan kedua mesin sempat aktif kembali sebelum pesawat jatuh di ketinggian rendah.
Kedua pilot yang menerbangkan pesawat adalah penerbang berpengalaman, dengan jumlah jam terbang mencapai sekitar 19.000 jam, termasuk lebih dari 9.000 jam di jenis pesawat Boeing 787.
Anthony Brickhouse, pakar keselamatan penerbangan dari AS, mengatakan fokus utama penyelidikan adalah mencari tahu alasan perpindahan sakelar yang tak sesuai prosedur standar.
“Apakah sakelar tersebut bergerak sendiri atau karena pilot. Dan jika dipindahkan karena pilot, mengapa,” ujarnya.
Senada dengan itu, pakar lainnya yakni John Cox berpendapat bahwa kecil kemungkinan seorang pilot memindahkan sakelar bahan bakar secara tidak sengaja.
Ia menambahkan bahwa memindahkan sakelar ke posisi “cut-off” akan langsung mematikan mesin, dan prosedur itu biasanya digunakan saat pesawat tiba di gerbang atau dalam kondisi darurat seperti kebakaran mesin. (mg1)
Sumber: detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















