Tidak Semua Orang Cocok Minum Matcha, Ini Daftar yang Harus Hati-hati

Matcha
Ilustrasi Menikmati Matcha. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Matcha belakangan jadi minuman hits yang sering muncul di kafe-kafe kekinian. Bukan cuma karena rasanya yang khas, tapi juga karena klaim manfaatnya: tinggi antioksidan, bisa kasih energi alami, sampai bantu metabolisme tubuh.

Tapi tunggu dulu—nggak semua orang bisa bebas menyeruput matcha latte tanpa mikir dua kali.

Menurut ahli gizi Do Thi Lan dari Departemen Nutrisi di Rumah Sakit Umum Tam Anh, Hanoi (dikutip dari VNExpress), ada kelompok orang tertentu yang sebaiknya hati-hati atau bahkan membatasi konsumsi matcha.

Yuk kita bahas satu-satu siapa saja yang harus waspada

  1. Penderita Penyakit Jantung

Kandungan kafein dalam matcha bisa lebih tinggi dari secangkir kopi. Bagi orang dengan masalah jantung—seperti tekanan darah tinggi, aritmia, atau penyakit arteri koroner—kafein bisa bikin jantung berdebar, detak makin cepat, bahkan tekanan darah melonjak tiba-tiba.

Solusi: konsultasikan dengan dokter, atau pilih minuman alternatif yang bebas kafein seperti teh herbal.

  1. Orang dengan Gangguan Kecemasan & Insomnia
BACA JUGA :  Peringati HJB 544, Pengcab IMI Kabupaten Bogor Ajak Ratusan Peserta Telusuri Jejak Ipik Gandamana

Matcha itu stimulan alami. Artinya, buat orang yang punya insomnia atau kecemasan, kafein dalam matcha justru bisa memperparah gejala—bikin makin sulit tidur, tambah gelisah, atau nggak bisa fokus.

Saran: jangan minum matcha malam-malam, dan kalau sensitif kafein, lebih baik skip.

  1. Pengguna Obat Pengencer Darah

Matcha kaya vitamin K. Nah, vitamin ini bisa ganggu efektivitas obat pengencer darah (contohnya warfarin). Kalau nggak hati-hati, risiko gumpalan darah, stroke, atau serangan jantung bisa meningkat.

Saran: pasien pengencer darah harus konsisten dalam asupan vitamin K dan selalu cek ke dokter sebelum konsumsi matcha.

  1. Ibu Hamil & Menyusui

Kafein berlebihan saat hamil bisa tingkatkan risiko keguguran, bayi lahir prematur, atau berat badan rendah.

Selain itu, kandungan katekin di matcha bisa menghambat penyerapan asam folat—padahal itu nutrisi penting untuk perkembangan janin.

Batas aman: ibu hamil disarankan nggak lebih dari 300 mg kafein per hari (sedangkan secangkir matcha bisa 60–80 mg). Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan.

  1. Orang dengan Masalah Pencernaan
BACA JUGA :  Kehamilan di Usia 40-an: Tidak Selalu Aman Jika Disertai Penyakit Berat

Kafein dalam matcha bisa merangsang asam lambung, memicu mual, refluks, atau sakit perut. Ditambah lagi, tanin di matcha bisa mengurangi penyerapan zat besi dari makanan nabati. Hasilnya? Risiko anemia kalau dikonsumsi berlebihan.

Catatan penting: jangan minum matcha saat perut kosong.

  1. Anak-anak

Sistem saraf anak masih berkembang. Jadi, kafein dari matcha bisa bikin mereka susah tidur, gampang rewel, dan susah fokus.

Menurut Akademi Pediatri Amerika:

  • Anak di bawah 12 tahun → sebaiknya hindari kafein total.
  • Anak 12 tahun ke atas → batasi di bawah 85–100 mg per hari.

Matcha memang kaya manfaat dan enak diminum, tapi bukan berarti cocok buat semua orang. Kalau kamu termasuk dalam kelompok di atas, sebaiknya hati-hati, atur porsinya, atau cari alternatif lain.

Seperti kata pepatah Gen Z: minum matcha boleh, asal nggak bikin hidup jadi “matcha-overthinking”.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================