
BOGORTODAY.COM – Fenomena penolakan publik terhadap penggunaan sirene dan strobo kendaraan pejabat kian menguat. Tagline viral “Stop Tot Tot Wuk Wuk” kini bukan sekadar candaan warganet, tetapi berkembang menjadi simbol perlawanan masyarakat di jalan raya.
Sosiolog IPB University, Dr. Ivanovich Agusta, menilai tren ini bisa mengarah pada civil disobedience atau pembangkangan sipil jika pemerintah tak segera merespons. “Masyarakat kini sedang memproduksi sanksi sosial yang lebih keras dibandingkan otoritas negara,” ungkap dosen Fakultas Ekologi Manusia tersebut.
Ia menjelaskan, penolakan publik dipicu oleh akumulasi kejengkelan terhadap penggunaan sirene dan strobo untuk kepentingan nondarurat, perilaku berkendara yang agresif, hingga kesan arogansi pejabat di jalan raya. Minimnya penegakan hukum hanya memperburuk keadaan, memunculkan kesenjangan antara aturan formal dan praktik di lapangan.
“Respons publik kini semakin skeptis setiap mendengar sirene. Resistensi ini muncul karena ketidakadilan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dr. Ivanovich, penggunaan sirene dan strobo yang tidak tepat membuat kepercayaan publik terhadap sistem darurat kian tergerus. Selain berisiko memicu ketegangan horizontal di jalan raya, kondisi ini juga mendorong lahirnya norma sosial baru: kesetaraan posisi di jalan bagi semua pengguna.
“Di satu sisi, ini mekanisme kontrol sosial yang bisa mendorong akuntabilitas. Tapi di sisi lain, tanpa kebijakan tegas, ada risiko mengganggu tatanan sosial dan keselamatan publik,” tegasnya.
Ia menekankan, penggunaan sirene dan strobo harus benar-benar dibatasi sesuai aturan. Tanpa langkah tegas, resistensi publik dikhawatirkan akan terus menguat dan berpotensi memicu pembangkangan sipil di masa depan.*
Bagi HalamanEditor : Aditya Nugraha
Sumber : ipb.ac.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















