Tiga Ruang Kelas SDN Gunung Sari 04 Rusak, Siswa Belajar dalam Kondisi Bahaya

SDN Gunung Sari 04 Rusak
Kondisi ruang kelas di SD Negeri Gunung Sari 04, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tampak rusak parah. Plafon dan kusen jendela lapuk, sementara dinding mulai retak. Meski membahayakan, aktivitas belajar-mengajar masih berlangsung di ruangan ini karena keterbatasan fasilitas sekolah. Foto: CR4/bogortoday.com

BOGORTODAY.COM – Cahaya pagi menyusup malu-malu melalui celah-celah atap yang rusak. Di sudut ruangan, plafon yang runtuh menggantung mengancam. Meja dan kursi kayu yang lapuk berjejer tidak rata, sebagian kakinya diganjal batu agar tidak goyang. Inilah pemandangan yang harus dihadapi ratusan siswa SDN Gunung Sari 04, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat setiap hari.

Sekolah yang berdiri di kawasan pinggiran ini telah mengalami kerusakan parah sejak 2019. Enam tahun berlalu, namun janji perbaikan masih sebatas harapan. Kondisi ini menjadi potret ironis di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, sementara pendidikan dasar, fondasi masa depan bangsa, masih berjuang dengan keterbatasan fisik yang membahayakan.

Tiga ruang kelas yang menjadi jantung kegiatan belajar-mengajar kini nyaris tak layak difungsikan. Dinding bangunan yang seharusnya kokoh menahan beban atap, kini rapuh dan retak di berbagai titik.

Kusen kayu yang telah melapuk termakan usia tidak lagi mampu menopang jendela dengan baik. Plafon yang runtuh sebagian meninggalkan lubang-lubang menganga, memperlihatkan rangka atap yang juga tidak luput dari kerusakan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi meja dan kursi belajar. Sebagian besar perabotan tersebut telah dikeropos rayap, membuat struktur kayunya rapuh dan berbahaya bagi siswa yang menggunakannya. Bayangan akan ambruknya kursi saat digunakan menjadi kecemasan tersendiri bagi para guru.

Kerusakan tidak berhenti di ruang kelas. Ruang guru yang seharusnya menjadi tempat para pendidik merencanakan pembelajaran, juga dalam kondisi memprihatinkan. Begitu pula ruang kepala sekolah dan perpustakaan, ruang yang seharusnya menjadi jendela ilmu pengetahuan bagi siswa, kini lebih menyerupai bangunan terbengkalai.

Kepala SDN Gunung Sari 04, Zubaidah, mengenang dengan detail upaya demi upaya yang telah dilakukan sejak enam tahun lalu. Berbagai pintu telah diketuk. Proposal perbaikan disusun dengan harapan tinggi, lalu diajukan ke pemerintah desa.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Museum Pajajaran Mulai Dibuka Resmi untuk Umum

Ketika tidak ada respons, langkah dilanjutkan ke tingkat kecamatan. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor pun dilakukan berkali-kali.

“Kami sudah berkali-kali mengajukan proposal, berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, Dinas Pendidikan, bahkan ke sejumlah anggota dewan. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap Zubaidah saat ditemui bogortoday.com, Selasa (14/10/2025).

Bahkan, pihak sekolah tidak segan mendatangi sejumlah anggota DPRD Kabupaten Bogor dengan harapan mereka dapat menjadi jembatan aspirasi. Namun, semua upaya itu seakan menemui jalan buntu. Tidak ada jawaban pasti, tidak ada jadwal yang jelas, apalagi realisasi perbaikan.

Zubaidah mencoba tetap positif di tengah kekecewaan yang berulang.

“Mungkin memang belum rezekinya. Tapi kami tetap berharap, semoga tahun ini menjadi titik terang. Anak-anak kami berhak mendapatkan tempat belajar yang aman dan layak,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Kondisi bangunan yang rusak bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi sudah masuk ranah keselamatan. Di musim hujan, kekhawatiran mencapai puncaknya. Atap yang rusak mengancam runtuh setiap kali hujan deras mengguyur. Air bocor di berbagai sudut ruangan, membuat lantai licin dan berpotensi menyebabkan siswa terpeleset.

Tembok yang rapuh dan retak juga menjadi ancaman tersendiri. Para guru harus ekstra waspada mengawasi pergerakan siswa, menjauhkan mereka dari dinding-dinding yang berpotensi ambruk. Kegiatan belajar-mengajar yang seharusnya fokus pada transfer ilmu pengetahuan, kini harus terbagi dengan kewaspadaan terhadap ancaman fisik bangunan.

Dalam kondisi seperti ini, konsentrasi belajar siswa terganggu. Bagaimana mereka bisa fokus memahami pelajaran ketika harus was-was dengan kondisi bangunan di sekitar mereka? Bagaimana para guru bisa mengajar dengan tenang ketika setiap saat harus memastikan tidak ada bagian bangunan yang akan jatuh menimpa siswa?

BACA JUGA :  Jalan Raya Lenteng Agung Ambles, Dinas SDA DKI Sebut Dipicu Saluran Penghubung Lama

SDN Gunung Sari 04 bukan kasus tunggal. Sekolah ini hanya satu dari sekian banyak lembaga pendidikan dasar di Kabupaten Bogor yang masih menanti sentuhan perbaikan infrastruktur. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan realitas di lapangan.

Berbagai program peningkatan mutu pendidikan terus digaungkan. Kurikulum diperbaiki, pelatihan guru digalakkan, sistem pembelajaran terus diperbarui. Namun, semua itu menjadi sia-sia ketika infrastruktur dasar, bangunan sekolah yang aman dan layak tidak tersedia.

Pendidikan berkualitas tidak bisa hanya berdiri di atas fondasi kurikulum yang baik. Ia membutuhkan lingkungan fisik yang mendukung, yang membuat siswa merasa aman dan nyaman untuk belajar. Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka semua program peningkatan mutu pendidikan hanya akan menjadi jargon kosong.

Di tengah ketidakpastian, warga dan pihak sekolah tidak kehilangan harapan. Mereka terus berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata. Bukan lagi janji atau rencana, tetapi aksi konkret yang bisa mereka lihat dan rasakan.

Zubaidah dan para guru di SDN Gunung Sari 04 terus berjuang dengan segala keterbatasan. Mereka tetap hadir setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati meskipun harus berhadapan dengan kondisi bangunan yang mengkhawatirkan. Para siswa pun terus datang dengan semangat belajar, meskipun harus duduk di kursi yang goyang dan belajar di ruangan yang bocor. (CR4)

Bagi Halaman

Editor : Bas

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================