Yakutsk: Kota Terdingin di Bumi yang Tetap Hidup dan Berdenyut

Yakutsk
Ilustrasi Yakutsk: Kota Terdingin di Bumi yang Tetap Hidup dan Berdenyut. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Manusia dikenal sebagai makhluk paling adaptif di dunia. Kita mampu bertahan di gurun panas, hutan lembap, hingga puncak gunung bersalju. Namun, bagaimana rasanya hidup di kota terdingin di bumi?

Bayangan tentang salju setebal lutut, es di mana-mana, dan udara membekukan mungkin langsung muncul di benak kita. Faktanya, kota terdingin di bumi bukanlah tempat kosong yang ditinggalkan manusia. Di sana, kehidupan tetap berjalan—bahkan berkembang.

Yakutsk: Rumah bagi 280 ribu orang di suhu ekstrem

Yakutsk, yang terletak di Siberia, dikenal sebagai kota terdingin di dunia. Suhu udara di sini bisa mencapai minus 40 derajat Celsius selama berbulan-bulan.

Beberapa pemukiman lain seperti Oymyakon memang pernah mencapai suhu lebih ekstrem, hingga -88 derajat Celsius, tetapi Yakutsk adalah satu-satunya pemukiman berskala kota yang sepenuhnya berfungsi dalam kondisi sekeras itu.

Meski tanahnya beku sepanjang tahun, Yakutsk justru berdiri di atas kekayaan alam yang luar biasa. Di bawah lapisan tanah yang membeku permanen (permafrost), tersimpan harta karun yang membuat kota ini bergerak dan hidup.

Tambang Berlian yang Mendunia

Wilayah Yakutsk merupakan penghasil berlian utama dunia. Tambang lokalnya menyumbang sekitar 20% produksi berlian global. Selain itu, cadangan gas alam, minyak, emas, perak, dan berbagai mineral lainnya menjadikan Yakutsk sebagai wilayah bernilai strategis bagi Rusia.

BACA JUGA :  Daftar Game Baru yang Rilis Juni 2026, Remake Legendaris Siap Ramaikan Pasar

Di balik cuaca ekstrem, ekonomi Yakutsk tetap berdenyut berkat industri pertambangan yang masif.

Pasar Terbuka Tanpa Bau, Semua Makanan Membeku Alami

Masyarakat Yakutsk hidup normal, beraktivitas seperti penduduk kota lain. Menariknya, Yakutsk memiliki pasar terbuka yang tetap ramai dikunjungi meski suhu membekukan.

Karena udara lebih dingin dari freezer, bahan makanan—terutama daging dan ikan—tidak pernah berbau dan otomatis membeku. Mereka bahkan jarang rusak karena lingkungan sudah seperti lemari pendingin raksasa.

Penduduk lokal juga memiliki menu favorit unik: hati kuda mentah, yang dianggap hangat dan kaya nutrisi untuk menghadapi cuaca ekstrem.

Pengalaman Steve Luncker: Dingin yang Menentukan Segalanya

Pada 2013, fotografer Swiss Steve Luncker, yang terbiasa hidup di Pegunungan Alpen dengan suhu sekitar minus 4 derajat Celsius, sengaja datang ke Yakutsk untuk melihat langsung kehidupan di kota ekstrem ini.

Sesampainya di bandara, ia sudah dibuat takjub oleh cara berpakaian penduduk lokal. Putri pemilik penginapan yang menjemputnya mengenakan perlengkapan lengkap: topi tebal, syal, sarung tangan, lapisan baju berlapis-lapis, hingga sepatu bot berinsulasi.

“Siapa sangka hanya untuk keluar memanggil taksi saja perlu persiapan seperti ini?” ujarnya kepada National Geographic.

BACA JUGA :  Waspadai Tanda-Tanda Korsleting Listrik di Rumah, Kenali Gejalanya Sebelum Terjadi Kebakaran

Selama di Yakutsk, semua aktivitas Luncker harus direncanakan matang. Jalan santai sambil belanja? Hampir mustahil.

“Di sini dingin menentukan segalanya,” katanya. “Tubuh Anda harus terus bergerak, kalau tidak suhu akan menguasai Anda.”

Berkunjung ke Tetangga dalam Hitungan Menit

Luncker juga mengamati kebiasaan unik warga Yakutsk. Mereka sering mengunjungi tetangga, tetapi hanya dalam waktu singkat.

Saat memotret momen itu dengan kamera Rolleiflex, setelah 15 menit jari-jari Luncker mulai mati rasa sehingga ia harus berhenti.

Penduduk lokal biasanya masuk ke rumah tetangga, melepas lapisan pakaian pertama, minum teh panas, lalu pergi lagi. Rumah-rumah itu seakan menjadi pos istirahat di tengah rute perjalanan mereka.

Keindahan dan Bahaya dalam Satu Kota

Meski Yakutsk tampak seperti negeri dongeng berselimut salju putih berkilau, kota ini tetap mematikan bagi orang yang tidak terbiasa. Kabut tebal, jarak pandang hanya 10 meter, dan suhu menusuk tulang membuat siapa pun mudah tersesat.

“Semua jalan terlihat serupa,” kata Luncker. “Anda bisa hilang hanya dalam beberapa langkah.”

Namun bagi penduduk Yakutsk, dingin ekstrem adalah bagian dari hidup. Mereka telah mengadaptasi tubuh, pakaian, pola makan, hingga kebiasaan sosial agar bisa bertahan—dan hidup dengan baik—di kota terdingin di dunia.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================