Intermittent Fasting Tak Hanya Turunkan Berat Badan, Ini Manfaatnya untuk Otak

Intermittent Fasting
Intermittent Fasting Tak Hanya Turunkan Berat Badan, Ini Manfaatnya untuk Otak. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Intermittent fasting atau puasa intermiten dikenal luas sebagai metode efektif untuk menurunkan berat badan.

Namun, manfaatnya ternyata tidak berhenti sampai di situ. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan ini juga berdampak positif terhadap kesehatan otak, mulai dari meningkatkan daya ingat hingga memperkuat ketahanan mental.

Sebuah studi tahun 2017 yang dipublikasikan dalam Nature Reviews Neuroscience mengungkapkan bahwa intermittent fasting dapat meningkatkan plastisitas sinaptik, memperkuat respons terhadap stres, serta menurunkan tingkat peradangan di otak. Efek tersebut berperan penting dalam menjaga fungsi kognitif jangka panjang.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa puasa intermiten merangsang produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berperan besar dalam pembelajaran, memori, dan kesehatan neuron. Tingginya kadar BDNF membantu sel-sel otak membentuk koneksi yang lebih kuat sehingga kemampuan berpikir dan daya ingat dapat meningkat.

Meningkatkan Efisiensi Energi Otak

BACA JUGA :  7 Minuman Sebelum Tidur yang Ampuh Membakar Lemak

Manfaat intermittent fasting tidak berhenti pada peningkatan fungsi kognitif saja. Studi lain pada tahun 2019 menemukan bahwa pola makan ini dapat meningkatkan efisiensi metabolisme energi di otak serta memperbaiki respons tubuh terhadap stres.

Dengan meningkatnya efisiensi kerja mitokondria, sel-sel otak mampu menghasilkan energi lebih optimal meskipun dengan asupan kalori yang lebih sedikit. Hasilnya, fokus dan konsentrasi dapat meningkat tanpa harus mengandalkan stimulan tambahan seperti kafein atau suplemen tertentu.

Mengurangi Peradangan dan Melindungi Sel Otak

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Neurochemistry pada 2018 juga menunjukkan bahwa intermittent fasting mampu menekan stres oksidatif dan peradangan pada sistem saraf. Kondisi ini berperan penting dalam melindungi neuron dari kerusakan.

Peradangan kronis diketahui berkaitan dengan berbagai gangguan kognitif, seperti penurunan daya ingat, gangguan konsentrasi, hingga perubahan suasana hati. Dengan menurunkan peradangan, puasa intermiten berpotensi membantu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

BACA JUGA :  Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, Indocement Tanam Pohon Endemi Lokal di Citeureup

Cara Melakukan Intermittent Fasting dengan Aman

Intermittent fasting tidak menuntut pembatasan jenis makanan secara ekstrem, melainkan fokus pada pengaturan waktu makan. Beberapa metode yang umum diterapkan antara lain:

  • Pola 16/8: Makan selama 8 jam, misalnya pukul 12.00–20.00, lalu berpuasa selama 16 jam.
  • Pola 14/10: Makan selama 10 jam dan berpuasa selama 14 jam, cocok bagi pemula.

Selama menjalani puasa, penting untuk tetap menjaga asupan cairan agar tubuh tidak dehidrasi. Disarankan pula untuk memulai secara bertahap dan mengimbanginya dengan pola tidur yang cukup serta aktivitas fisik ringan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Dengan penerapan yang tepat, intermittent fasting bukan hanya membantu mengontrol berat badan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesehatan otak dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================