BOGORTODAY.COM – Kisah Ashim bin Tsabit menjadi salah satu teladan paling menggetarkan tentang keberanian, keteguhan iman, dan pengorbanan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ia dikenal sebagai sahabat Anshar dari suku Aus, termasuk generasi awal Muslim Madinah yang setia membantu Rasulullah SAW setelah hijrah. Ketulusan dan keberaniannya dalam membela Islam menjadikan namanya harum dalam sejarah, bahkan hingga setelah wafatnya.
Ashim bin Tsabit merupakan bagian dari pilar penopang dakwah Islam di Madinah pada masa-masa sulit. Ia tidak hanya dikenal sebagai pejuang yang gagah berani, tetapi juga sebagai sosok yang sangat menjaga kehormatan diri dan agamanya.
Kisah heroiknya, terutama tentang bagaimana Allah SWT menjaga jasadnya dari tangan musuh, terus menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa.
Diutus Mengajarkan Islam
Dikisahkan dalam Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hassan, tidak lama setelah Perang Uhud, Rasulullah SAW mengutus enam sahabat pilihan untuk menjalankan misi penting, yakni mengajarkan Islam kepada suatu kaum. Ashim bin Tsabit dipercaya menjadi pemimpin rombongan tersebut.
Dengan penuh semangat dan keyakinan, mereka berangkat meninggalkan Madinah. Namun, di tengah perjalanan, tidak jauh dari Makkah, rombongan itu dipergoki oleh sekelompok orang dari suku Hudzail. Tanpa menunggu lama, kaum Hudzail mengepung mereka dengan persenjataan lengkap.
Keteguhan Menolak Tipu Daya Musuh
Orang-orang Hudzail mencoba memperdaya para sahabat dengan bujuk rayu. Mereka berkata, “Kalian tidak akan mampu melawan kami. Demi Allah, kami tidak akan menyakiti kalian jika kalian menyerah dan memercayai sumpah kami.”
Para sahabat saling berpandangan, mempertimbangkan situasi yang sangat genting. Namun, Ashim bin Tsabit dengan tegas menyatakan sikapnya. “Aku tidak akan memegang janji orang-orang musyrik itu,” ucapnya mantap.
Ashim teringat sumpah Sulafah binti Sa’ad, seorang perempuan Quraisy yang bernazar ingin membalas dendam kepadanya. Dengan penuh keyakinan, Ashim menghunus pedangnya seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah menjaga agama-Mu dan berjuang karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, dan jangan Engkau biarkan seorang musuh pun menyentuhku.”
Gugur sebagai Syuhada
Ashim bersama beberapa sahabat memilih bertempur daripada menyerah. Mereka melawan dengan gagah berani hingga akhirnya gugur satu per satu sebagai syuhada di jalan Allah.
Sementara itu, tiga sahabat lainnya memilih menyerah dengan harapan janji keselamatan ditepati. Namun, kaum Hudzail justru mengkhianati sumpah mereka.
Pada awalnya, kaum Hudzail tidak menyadari bahwa salah satu sahabat yang gugur adalah Ashim bin Tsabit.
Setelah mengetahui identitasnya, mereka merasa girang karena membayangkan imbalan besar dari kaum Quraisy di Makkah, khususnya dari Sulafah binti Sa’ad.
Jasad yang Dijaga Allah SWT
Kabar wafatnya Ashim sampai ke telinga para pemimpin Quraisy. Mereka pun mengirim utusan dengan sejumlah uang untuk mendapatkan kepala Ashim demi memenuhi nadzar Sulafah. Namun, ketika kaum Hudzail hendak mendekati jasad Ashim untuk memenggal kepalanya, terjadi peristiwa luar biasa.
Tiba-tiba, segerombolan lebah datang menyerang dengan ganas, mengelilingi dan menggigit siapa saja yang mencoba mendekat. Berkali-kali mereka berusaha, namun selalu gagal karena serangan lebah yang tak tertahankan.
Akhirnya, mereka berkata, “Biarkan saja sampai malam, biasanya lebah akan pergi ketika gelap.” Namun, ketika malam tiba, hujan deras turun disertai petir dan banjir besar yang menghanyutkan lembah tersebut. Keesokan paginya, jasad Ashim bin Tsabit telah hilang tanpa jejak, hanyut dibawa banjir sesuai kehendak Allah SWT.
Doa yang Dikabulkan
Peristiwa ini menjadi bukti bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang beriman. Doa Ashim bin Tsabit dikabulkan, bahkan setelah ia wafat. Tak seorang pun dari kaum musyrik mampu menyentuh jasadnya.
Mendengar kisah ini, Umar bin al-Khattab RA berkata dengan penuh kekaguman, “Sungguh menakjubkan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang beriman. Ashim bernazar untuk tidak menyentuh dan disentuh oleh orang musyrik selama hidupnya, maka Allah pun melindunginya setelah kematiannya, sebagaimana Dia menjaganya ketika masih hidup.”
Kisah Ashim bin Tsabit menjadi pengingat bahwa keikhlasan, keberanian, dan keteguhan iman tidak akan pernah sia-sia. Allah SWT senantiasa menjaga hamba-Nya yang setia membela agama-Nya, baik di dunia maupun setelah wafat.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















