BOGORTODAY.COM – Kisah Nabi Musa AS merupakan salah satu cerita paling masyhur dalam sejarah para nabi.
Perjuangan beliau melawan kezaliman Raja Firaun, hingga mukjizat terbelahnya Laut Merah, menjadi pelajaran besar tentang keimanan, kesabaran, dan kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas.
Dalam kitab Qashashul Anbiya susunan Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, diceritakan bahwa Nabi Musa AS memiliki kisah hidup yang penuh keajaiban sejak masa kecilnya. Pada masa itu, Firaun memerintahkan rakyat Mesir untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil karena takut kekuasaannya akan digulingkan.
Namun, Allah SWT melindungi Musa AS melalui ibunya. Dengan penuh keimanan, sang ibu meletakkan bayi Musa dalam sebuah peti yang diikat tali dan dihanyutkan di sungai.
Atas kehendak Allah, peti tersebut ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun, yang kemudian tergerak hatinya untuk mengadopsi bayi tersebut.
Menurut buku Kisah Nabi Musa AS karya Abdillah, Asiyah membujuk Firaun agar mengangkat Musa sebagai anak. Awalnya Firaun menolak, tetapi akhirnya ia menyetujui. Dengan demikian, Musa AS tumbuh besar di istana Firaun, tanpa Firaun menyadari bahwa anak angkatnya kelak akan menjadi penyebab kehancurannya.
Ketika Musa AS beranjak dewasa, Allah SWT mengangkatnya sebagai nabi dan rasul. Ia diperintahkan untuk berdakwah kepada Bani Israil serta mengajak Firaun untuk menyembah Allah SWT. Dalam menyampaikan dakwahnya, Nabi Musa AS didampingi oleh saudaranya, Nabi Harun AS.
Dengan penuh kelembutan, Musa AS menyampaikan ajaran tauhid kepada Firaun. Namun, sang raja menolak dan bersikap sombong. Sebagai bukti kenabian, Allah SWT menganugerahkan mukjizat kepada Musa AS berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular besar dan tangan yang bercahaya ketika dikeluarkan dari bajunya.
Firaun tetap mengingkari kebenaran dan menantang Musa AS dengan mengumpulkan para ahli sihir. Mereka pun melemparkan tongkat-tongkatnya yang tampak seperti ular. Namun, atas izin Allah, ular dari tongkat Musa AS melahap seluruh ular para penyihir. Peristiwa itu membuat banyak ahli sihir beriman kepada Allah SWT.
Asiyah, istri Firaun sekaligus ibu angkat Musa AS, juga memilih beriman. Hal ini membuat Firaun semakin murka. Ia menyiksa para pengikut Nabi Musa AS, termasuk Asiyah, hingga akhirnya wafat sebagai syahidah karena mempertahankan keimanannya.
Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Musa AS untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Namun, Firaun dan pasukannya mengejar mereka hingga sampai di tepi Laut Merah. Dalam keadaan terdesak, Nabi Musa AS tetap bertawakal kepada Allah.
Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke laut. Seketika, Laut Merah terbelah dan membentuk jalan kering di tengahnya. Nabi Musa AS bersama pengikutnya menyeberang dengan selamat.
Firaun dan pasukannya yang sombong tetap mengejar melalui jalan tersebut. Setelah Nabi Musa AS dan Bani Israil sampai di seberang, Allah SWT memerintahkan Musa AS memukul laut kembali. Laut pun menutup dan menenggelamkan Firaun beserta seluruh pasukannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 50:
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ ٱلْبَحْرَ فَأَنجَيْنَٰكُمْ وَأَغْرَقْنَآ ءَالَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikut-pengikutnya, sedang kamu sendiri menyaksikan.”
Kisah Nabi Musa AS mengajarkan bahwa kebenaran akan selalu menang atas kezaliman, dan pertolongan Allah SWT datang kepada hamba-Nya yang beriman dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















