BOGORTODAY.COM – Perubahan pola makan selama puasa Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang memiliki GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) maupun gangguan lambung lainnya.
Pola makan yang berubah drastis—dari tiga kali sehari menjadi dua kali (sahur dan berbuka)—sering memunculkan kekhawatiran: apakah kondisi lambung akan memburuk?
Menurut Ari Fahrial Syam, konsultan kesehatan pencernaan, kondisi tersebut bergantung pada tingkat keparahan penyakit yang dialami.
“Apabila Anda punya masalah maag yang akut, tentu harus diobati. Masih ada waktu untuk diobati,” kata dr Ari dalam pesan video yang diterima detikcom sepekan menjelang Ramadan.
“Tapi ketika tidak ada masalah, saat ini tidak kambuh maag-nya, maka tidak ada masalah untuk berpuasa. Yang penting adalah tetap sahur dan berbuka dengan baik,” lanjutnya.
GERD dan Puasa: Bisa Lebih Baik?
Dalam banyak kasus, dr Ari menyampaikan bahwa kondisi masalah pencernaan justru bisa membaik saat berpuasa. Hal ini terutama terjadi pada mereka yang sebelumnya memiliki pola makan tidak teratur.
Di hari biasa, jadwal makan yang berantakan, kebiasaan ngemil, konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, hingga minuman berkafein sering menjadi pemicu utama kambuhnya maag atau GERD. Saat Ramadan, pola makan menjadi lebih teratur karena hanya dilakukan saat sahur dan berbuka.
Dengan catatan, pemilihan makanan tetap dijaga dan tidak berlebihan saat berbuka.
Faktor Psikologis Juga Berpengaruh
Selain pola makan, faktor psikologis juga memainkan peran penting dalam kesehatan lambung. Stres diketahui dapat memperburuk gejala GERD dan gangguan lambung lainnya.
Selama Ramadan, umat Muslim cenderung memperbanyak ibadah seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Aktivitas ini membantu menciptakan ketenangan batin.
“Ketenangan jiwa terjadi pada teman-teman yang memang nanti akan melaksanakan ibadah puasa Ramadan, dan kondisi itu merupakan hal yang positif untuk kesehatan lambung,” jelas dr Ari.
Kondisi mental yang lebih tenang dapat membantu mengurangi produksi asam lambung berlebih yang sering dipicu stres.
Kapan Sebaiknya Tidak Berpuasa?
Meski banyak yang justru membaik saat puasa, penderita GERD tetap perlu waspada. Jika mengalami gejala berat seperti:
- Nyeri ulu hati hebat
- Muntah berulang
- Sulit menelan
- Berat badan turun drastis
- BAB hitam atau muntah darah
Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa.
Bagi penderita maag akut, pengobatan dan kontrol kondisi sebelum Ramadan sangat dianjurkan. Jika gejala sudah terkendali, puasa umumnya tetap bisa dijalankan dengan aman.
Tips Aman Berpuasa bagi Penderita GERD
Agar puasa tetap nyaman, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Jangan melewatkan sahur
- Hindari makanan terlalu pedas, asam, dan berlemak
- Makan secukupnya saat berbuka, jangan langsung berlebihan
- Hindari langsung tidur setelah makan
- Batasi kopi dan minuman bersoda
- Konsumsi obat sesuai anjuran dokter jika diperlukan
Pada akhirnya, aman atau tidaknya berpuasa bagi penderita GERD sangat bergantung pada kondisi masing-masing.
Jika tidak sedang kambuh dan pola makan dijaga dengan baik, puasa justru bisa membantu memperbaiki keteraturan makan serta memberikan dampak positif bagi kesehatan lambung.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















