James Cameron Kritik Akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Netflix: Disebut Bisa Jadi “Bencana” bagi Industri Film

James Cameron
Sutradara ternama James Cameron. (Foto: AP Photo)

BOGORTODAY.COM – Sutradara ternama James Cameron secara terbuka mengkritik rencana akuisisi Warner Bros. Discovery (WBD) oleh Netflix. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menjadi bencana bagi industri perfilman, khususnya ekosistem bioskop.

Pernyataan itu disampaikan Cameron melalui surat kepada Mike Lee, Ketua Subkomite Senat AS tentang Antimonopoli, pekan lalu. Surat tersebut kemudian dirilis ke publik oleh CNBC pada Kamis (19/2/2026).

“Saya sangat yakin bahwa usulan penjualan Warner Brothers Discovery ke Netflix akan menjadi bencana bagi bisnis perfilman yang telah saya dedikasikan sepanjang hidup saya,” tulis Cameron dalam surat tersebut.

Ia menegaskan bahwa meski film-filmnya juga tayang di platform video, kecintaannya tetap pada layar lebar.

“Tentu saja, film-film saya juga diputar di pasar video hilir, tetapi cinta pertama saya adalah bioskop,” tulisnya. “Bioskop akan tutup. Lebih sedikit film yang akan dibuat. Hilangnya pekerjaan akan meningkat drastis.”

Soroti Ancaman terhadap Model Bisnis Bioskop

Menurut Cameron, model bisnis Netflix yang berbasis streaming dinilai bertentangan langsung dengan model produksi dan distribusi film tradisional yang bertumpu pada jaringan bioskop.

“Model bisnis Netflix bertentangan langsung dengan bisnis produksi dan penayangan film di bioskop, yang mempekerjakan ratusan ribu warga Amerika,” tulisnya, seperti diberitakan Variety.

Ia juga menilai langkah tersebut akan berdampak langsung pada divisi film Warner Bros., yang ia sebut sebagai salah satu dari sedikit studio film besar yang masih tersisa di Hollywood.

BACA JUGA :  Tips Memilih Kloset Duduk yang Nyaman dan Mudah Dibersihkan

Selain itu, Cameron mengkhawatirkan dampak jangka panjang terhadap dominasi global film Hollywood. Jika WBD diakuisisi Netflix, menurutnya, ekspor film Hollywood bisa melemah dan kepemimpinan industri film AS di pasar global terancam.

Tanggapan dari Senator dan Netflix

Menanggapi polemik ini, Senator Mike Lee menyatakan bahwa pihaknya telah menerima berbagai masukan dari pelaku industri film terkait rencana akuisisi tersebut. Ia berharap bisa mendengar lebih banyak pandangan dalam sidang lanjutan subkomite antimonopoli.

Sementara itu, salah satu CEO Netflix, Ted Sarandos, memberikan respons keras terhadap pernyataan Cameron. Dalam acara The Calaman Countdown pada Jumat (20/2), Sarandos mengaku kecewa.

“Saya sangat terkejut dan kecewa bahwa James memilih untuk menjadi bagian dari kampanye disinformasi Paramount yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tentang kesepakatan ini,” ujar Sarandos, seperti dikutip New York Post.

Sarandos mengklaim telah bertemu langsung dengan Cameron pada akhir Desember dan menjelaskan komitmen Netflix untuk tetap memberikan jendela penayangan 45 hari di bioskop bagi film-film Warner Bros.

“Saya telah berbicara tentang komitmen itu di media berkali-kali. Saya bersumpah di bawah sumpah di hadapan subkomite Senat tentang antimonopoli bahwa itulah yang sedang kami lakukan,” tegasnya.

Kritik dari Mark Ruffalo

Tak hanya dari pihak Netflix, aktor Mark Ruffalo juga ikut mengkritik sikap Cameron. Pemeran Hulk dalam semesta Marvel itu mempertanyakan konsistensi penolakan Cameron terhadap isu monopoli.

BACA JUGA :  Kemnaker Catat 23.470 Pekerja Terkena PHK hingga Mei 2026, Lebih Rendah dari Tahun Lalu

Melalui Instagram Threads, Ruffalo menulis bahwa jika Cameron menentang akuisisi oleh Netflix karena alasan monopoli, maka ia juga seharusnya menentang kemungkinan akuisisi oleh pihak lain.

“Apakah Anda juga menentang monopolisasi yang akan tercipta jika Paramount mengakuisisi? Atau hanya monopolisasi Netflix saja?” tulis Ruffalo, seperti diberitakan Variety.

Ia juga mempertanyakan apakah Senator Mike Lee memiliki kekhawatiran serupa terhadap potensi akuisisi oleh pihak lain seperti Paramount.

Nilai Akuisisi dan Jadwal Penentuan

Netflix saat ini disebut siap mengakuisisi studio Warner Bros. dan platform HBO Max dalam kesepakatan senilai US$83 miliar.

Pada 17 Februari 2026, Warner Bros. membuka peluang tujuh hari bagi Paramount Skydance untuk mengajukan penawaran tandingan terakhir yang lebih unggul.

Selanjutnya, pada 20 Maret 2026, para pemegang saham Warner Bros. Discovery dijadwalkan memberikan suara terkait penawaran akuisisi oleh Netflix.

Masa Depan Industri Film di Persimpangan

Perdebatan ini menyoroti ketegangan lama antara model distribusi bioskop tradisional dan platform streaming digital. Di satu sisi, streaming dinilai memberi akses lebih luas dan fleksibel bagi penonton. Di sisi lain, banyak sineas khawatir dominasi platform digital akan menggerus eksistensi bioskop serta ekosistem pekerja film.

Apapun hasil voting pemegang saham nanti, keputusan tersebut berpotensi mengubah lanskap industri hiburan global secara signifikan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================