Pulang Sebelum Pulang

Oleh : Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)

RAMADAN telah memasuki hari-hari terakhir. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Bila pada awal Ramadan masjid dipenuhi langkah-langkah yang bergegas menuju shaf tarawih, kini perlahan shaf itu tampak semakin maju.

Sebagian jamaah masih bertahan dalam kekhusyukan ibadah, tetapi sebagian lainnya mulai larut dalam ritme yang berbeda seperti  undangan buka bersama, keramaian pusat perbelanjaan, hingga kesibukan mencari tiket mudik.

Di ruang-ruang percakapan keluarga dan media sosial, topik pun berubah. Bila di awal Ramadan orang banyak berbicara tentang niat berpuasa dan ibadah, kini pembicaraan beralih pada perjalanan pulang.

Tiket kereta, kepadatan jalan tol, hingga rencana oleh-oleh menjadi bagian dari cerita sehari-hari. Mudik seakan menjadi kata yang paling sering disebut menjelang akhir Ramadan.

Namun mudik bukan sekedar perjalanan dari kota ke kampung halaman, lebih dari itu sebuah perjalanan rindu.

BACA JUGA :  Korea Selatan Beri Diskon Tiket Bus untuk Turis Asing, Dorong Wisata ke Luar Seoul

Banyak orang tidak pernah benar-benar mengucapkan kata rindu, tetapi mereka menunjukkannya melalui perjalanan panjang yang ditempuh dengan sabar.

Dalam diam, mudik menjadi bahasa hati yang paling jujur, sebuah bahasa yang mengatakan bahwa sejauh apa pun manusia pergi, selalu ada keinginan untuk kembali. Kembali kepada orang-orang yang membesarkannya. Kembali kepada rumah yang pernah menyimpan masa kecilnya.

Dalam perspektif sosial komunikasi, mudik adalah pesan kolektif masyarakat tentang pentingnya keluarga, kenangan, dan akar kehidupan.

Ketika jutaan orang pulang dalam waktu yang hampir bersamaan, itu bukan hanya perpindahan manusia, melainkan sebuah peristiwa sosial yang mengingatkan kita bahwa manusia selalu membutuhkan tempat untuk kembali.

Selain itu Ramadan sebenarnya mengajarkan makna pulang yang lebih dalam dari sekedar perjalanan fisik. Puasa adalah perjalanan batin untuk kembali kepada diri yang lebih jernih.

BACA JUGA :  Tampil Perkasa di Arcamanik, Skuat Sepak Bola Kota Bogor Hancurkan KBB 5-0

Dalam keheningan sahur, dalam doa-doa malam, dan dalam usaha menahan diri sepanjang hari, manusia diajak untuk melihat kembali hidupnya.

Ramadan seperti pengingat lembut bahwa pada hakikatnya manusia adalah perantau di dunia. Kita sibuk mengejar banyak hal, hingga sering lupa arah pulang yang sebenarnya.

Oleh karena itu, sebelum kita benar-benar pulang ke kampung halaman, Ramadan mengajarkan satu perjalanan yang lebih penting,  pulang kepada hati yang bersih, pulang kepada hubungan yang diperbaiki, dan pulang kepada Tuhan.

Sebab pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat,  lebih dari itu sebuah keadaan jiwa. Saat menjelang hari raya, Ramadan seakan berbisik pelan kepada kita semua: pulanglah, tetapi jangan lupa pulang yang sebenarnya. Pulang sebelum benar-benar pulang.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================