
BOGORTODAY.COM – Eskalasi militer di perbatasan utara Israel dan Lebanon memasuki fase baru yang semakin mengkhawatirkan.
Israel terus mengintensifkan operasi darat dan serangan udara, sementara pihak Hizbullah menegaskan posisi keras mereka terhadap upaya gencatan senjata yang dianggap sebagai bentuk “penyerahan diri”.
Ekspansi Militer Israel hingga Sungai Litani
Militer Israel dilaporkan telah mendorong pasukannya lebih dalam ke wilayah Lebanon selatan. Fokus operasi saat ini adalah menguasai jalur menuju Sungai Litani, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari garis perbatasan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa langkah ini diambil untuk membangun “zona keamanan nyata”.
Menurutnya, perluasan area ini krusial untuk meminimalisir risiko invasi darat maupun serangan rudal ke wilayah Israel.
“Kami sedang membentuk zona penyangga yang lebih luas guna menangkal kemungkinan invasi serta ancaman proyektil ke wilayah kami,” ujar Netanyahu melalui pernyataan resminya.
Respons Agresif Hizbullah
Di sisi lain, Hizbullah menunjukkan perlawanan sengit dengan mengklaim telah melancarkan lebih dari 80 serangan dalam sehari—jumlah harian tertinggi selama konflik berlangsung.
Serangan tersebut menyasar sembilan kota perbatasan serta lokasi militer di pusat Israel yang memicu sirine peringatan di berbagai titik.
Pihak militer Israel melaporkan adanya korban luka di jajaran mereka, termasuk satu tentara yang mengalami luka parah akibat hantaman roket di Lebanon selatan.
Meski demikian, sistem pertahanan udara Israel dikabarkan berhasil mencegat enam roket yang menuju wilayah tengah.
Diplomasi yang Menemui Jalan Buntu
Di tengah desakan internasional, jalan menuju perdamaian tampak masih tertutup rapat:
- Posisi Hizbullah: Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, secara tegas menolak berunding selama serangan Israel masih berlangsung. Baginya, negosiasi dalam kondisi tertekan sama saja dengan dipaksa menyerah.
- Tawaran Lebanon: Presiden Lebanon sempat mengusulkan negosiasi langsung dengan Israel—sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, usulan ini ditolak oleh pihak Israel.
- Peringatan PBB: Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan penghentian baku tembak segera. Ia memperingatkan agar Lebanon selatan tidak dijadikan medan tempur dengan “model Gaza”, yang berisiko memicu pengungsian besar-besaran dan krisis kemanusiaan yang lebih parah.
Sebagai informasi, ketegangan ini bermula sejak 2 Maret lalu, ketika Hizbullah mulai menghujani Israel dengan roket sebagai aksi balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















