Kartini di Era Scroll: Masihkah Emansipasi Bermakna?

Kartini
Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)

Oleh :  Agus Jatmika (Pemerhati Sosial Komunikasi)

SETIAP tahun, nama Raden Ajeng Kartini kembali ramai diperbincangkan saat Hari Kartini tiba. Media sosial dipenuhi unggahan kebaya, kutipan inspiratif, hingga narasi tentang emansipasi perempuan.

Namun di tengah derasnya budaya scroll, dimana informasi datang dan pergi dalam hitungan detik muncul satu pertanyaan mendasar, apakah emansipasi hari ini masih benar-benar dimaknai, atau hanya menjadi tren musiman yang lewat begitu saja?

Kartini pernah memperjuangkan hak perempuan untuk berpikir, belajar, dan menentukan masa depannya sendiri. Gagasannya, yang terhimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, lahir dari kegelisahan terhadap keterbatasan zamannya.

Ia hidup dalam ruang sosial yang sempit, tetapi memiliki horizon pemikiran yang luas. Hari ini, ruang itu telah terbuka lebar, setidaknya secara formal. Pendidikan dapat diakses lebih luas, perempuan hadir di berbagai sektor, dan teknologi memberi ruang bagi siapa saja untuk bersuara. Justru disitulah paradoks muncul.

BACA JUGA :  Tidak Semua Orang Cocok Makan Bayam, Ini Kelompok yang Perlu Berhati-hati

Kebebasan yang Melimpah, Arah yang Dipertanyakan

Generasi Z tumbuh dalam lanskap digital yang nyaris tanpa batas. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bukan hanya alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang sosial baru. Di sana, identitas dibangun, opini dibentuk, dan eksistensi dipertontonkan.

Sekilas, kondisi ini tampak sebagai realisasi mimpi Kartini. Sebuah kebebasan berekspresi yang lebih merata. Disisi lain jika dilihat lebih dalam, kebebasan itu seringkali bergerak di permukaan. Banyak ekspresi lahir bukan dari kesadaran, melainkan dari dorongan tren. Banyak suara muncul bukan karena gagasan, tetapi karena kebutuhan akan pengakuan.

Apa yang viral dianggap penting, apa yang ramai dianggap benar. Dalam situasi seperti ini, kebebasan berisiko kehilangan arah.

BACA JUGA :  7 Ciri Seseorang yang Memiliki Kesan Berkelas Tanpa Harus Mewah

Dari Literasi ke Sekedar Eksistensi

Kartini menempatkan pendidikan sebagai pondasi emansipasi. Baginya, literasi merupakan jalan menuju kebebasan berpikir. Ia tidak sekedar ingin perempuan “tampil”, tetapi mampu memahami dunia dan menentukan sikap secara mandiri.

Di era digital, akses terhadap informasi tidak lagi menjadi persoalan utama. Dalam hal ini yang menjadi tantangan justru adalah bagaimana mengelola informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermakna. Generasi Z tidak kekurangan informasi, tetapi seringkali kelebihan distraksi.

Media sosial yang seharusnya bisa menjadi ruang belajar justru kerap berubah menjadi panggung eksistensi. Identitas dibangun melalui visual, bukan melalui gagasan. Popularitas menjadi tujuan, bukan dampak. Dalam kondisi ini, literasi perlahan tergeser oleh sensasi.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================