
Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMAIT BBS)
ALHAMDULILLAH pembaca Bogor Today yang budiman, Hari Raya Idul Adha tahun ini akan kita rayakan bersama-sama pada Rabu, 27 Mei 2026. Menteri Agama menyampaikan bahwa penetapan ini didasarkan pada data hisab dan kesaksian rukyat yang dapat dipertanggungjawabkan. Beliau berharap ketetapan ini menjadi pedoman agar kita bisa menjalankan rangkaian ibadah Zulhijah secara serentak.
Hikmah berkurban di hari raya Idul Adha adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ibadah ini membuktikan bahwa seorang muslim rela mengorbankan sebagian harta yang dicintainya demi mematuhi perintah Allah SWT.
Hikmah yang lain adalah meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang mempunyai tauhid yang lurus. Peristiwa ini menjadi simbol pengorbanan tertinggi, keimanan, serta kepasrahan total seorang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah atas ujian yang diberikan.
Juga menumbuhkan kepedulian sosial, karena daging kurban didistribusikan kepada kerabat, fakir miskin, dan yang membutuhkan, sehingga mempererat persaudaraan umat. Dan hikmah selanjutnya melatih diri untuk tidak kikir dan menjauhkan hati dari sifat cinta dunia secara berlebihan.
Kemudian hikmah yang terakhir buat kita semua pada zaman now adalah kita semua tanpa kecuali harus berkurban yang terbaik, yaitu dengan berbuat yang terbaik meski itu berat dan sulit, sesuai dengan kedudukan dan fungsi kita masing-masing.
Sebagai pemimpin (dari RT, RW, Lurah/Kades sampai Presiden) kita harus memimpin yang terbaik agar tercipta keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan untuk rakyat, bangsa dan negara. Bukan malah dzolim kepada rakyat, korupsi uang rakyat dan jadi pengkhianat bangsa dan negara.
Sebagai warga negara yang baik, jika kita seorang pekerja, maka kita harus bekerja yang terbaik, rajin, disiplin, jujur, kreatif, inovatif, semangat, bangga dengan profesi kita dan taat dengan pimpinan. Sedang jika kita jadi bos, maka jadilah bos yang terbaik terhadap karyawannya. Bukan bos yang sombong, otoriter dan pelit bin kikir.
Jika kita jadi penegak hukum, tegakkan supremasi hukum, bukan malah hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas, serta wani piro. Jika kita jadi wakil rakyat (DPR, DPRD, DPD) harus menempatkan rakyat, bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan Parpol. Tidak malah diam saja saat rakyat menderita.
Untuk menjadi yang terbaik, itu semua butuh pengorbanan yang berat dan sulit, tapi jika dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, pengorbanan kita, tidak ada apa-apanya. Atau pengorbanan kita itu masih tergolong ece-ece. Jayalah Indonesiaku.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















