BOGORTODAY.COM – Pernah merasakan perut tidak nyaman saat sedang banyak pikiran? Gejalanya bisa bermacam-macam, mulai dari perut kembung, mual, mulas, hingga sulit buang air besar. Kondisi ini sering dianggap sepele, padahal secara ilmiah ada kaitan kuat antara kondisi psikologis dan kesehatan sistem pencernaan.
Para peneliti kini semakin memahami bahwa otak dan usus saling terhubung melalui apa yang disebut sebagai gut-brain connection. Artinya, apa yang terjadi pada pikiran dapat langsung memengaruhi kondisi usus, dan sebaliknya.
Usus dan “Dunia Mikrobioma” di Dalam Tubuh
Di dalam sistem pencernaan manusia terdapat triliunan mikroorganisme baik yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Bakteri ini tidak hanya membantu proses pencernaan makanan, tetapi juga berperan dalam mengatur sistem imun, metabolisme, hingga respons tubuh terhadap stres.
Mikrobiota usus bekerja selaras dengan ritme alami tubuh atau ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur, rasa lapar, energi, dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Ketika ritme ini terganggu, keseimbangan bakteri usus juga bisa ikut berubah.
Saat Stres Mengganggu Sistem Pencernaan
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan meningkatkan produksi hormon kortisol. Dalam kondisi normal, hormon ini membantu tubuh tetap waspada. Namun, jika kadarnya terus tinggi dalam waktu lama, dampaknya bisa mengganggu sistem pencernaan.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada pergerakan usus, memicu peradangan ringan, serta mengganggu keseimbangan mikrobioma. Akibatnya, usus menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami gangguan seperti nyeri perut atau perubahan pola buang air besar.
Selain itu, stres juga sering berdampak pada kualitas tidur. Padahal, tidur merupakan waktu penting bagi tubuh untuk memulihkan fungsi organ, termasuk sistem pencernaan.
Gaya Hidup Modern dan Dampaknya pada Usus
Kebiasaan sehari-hari di era modern seperti begadang, pola makan tidak teratur, kerja bergilir, hingga penggunaan gawai sebelum tidur dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh.
Ketika jam biologis tidak seimbang, kesehatan mikrobiota usus juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan metabolisme, seperti kenaikan berat badan, ketidakseimbangan gula darah, hingga peradangan kronis.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















