
BOGORTODAY.COM – Penemuan kota kuno Al-Natah di kawasan Gurun Arab menjadi salah satu temuan arkeologi yang menarik perhatian dunia. Permukiman berbenteng yang terkubur selama kurang lebih 4.000 tahun itu ditemukan di Oasis Khaybar, Arab Saudi, dan membuka wawasan baru mengenai kehidupan masyarakat Jazirah Arab pada masa Zaman Perunggu.
Selama ini, wilayah Arab kuno kerap digambarkan sebagai daerah yang didominasi kehidupan suku-suku nomaden. Namun, keberadaan Al-Natah menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan tersebut telah mampu membangun kota permanen dengan sistem permukiman yang terencana jauh sebelum lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Jazirah Arab.
Berikut sejumlah fakta menarik mengenai kota kuno Al-Natah.
- Tersembunyi di Kawasan Oasis Khaybar
Al-Natah berada di Oasis Khaybar, sebuah kawasan subur di Provinsi Madinah, Arab Saudi. Selama ribuan tahun, sisa-sisa kota ini tertutup oleh lapisan tanah dan vegetasi sehingga keberadaannya tidak terdeteksi.
Oasis Khaybar sendiri memiliki nilai sejarah yang tinggi. Pada abad ke-7 Masehi, wilayah ini dikenal sebagai permukiman komunitas Yahudi yang kemudian berada di bawah kekuasaan umat Islam. Namun, hasil penelitian terbaru mengungkap bahwa kawasan tersebut telah dihuni sejak ribuan tahun sebelumnya oleh masyarakat Zaman Perunggu.
- Diperkirakan Berusia Sekitar 4.000 Tahun
Berdasarkan hasil kajian arkeologi, pembangunan Al-Natah diperkirakan dimulai sekitar tahun 2400 Sebelum Masehi (SM). Kota ini berkembang hingga sekitar 2000 SM dan tetap dihuni setidaknya sampai 1500 SM. Bahkan, sejumlah bukti menunjukkan aktivitas manusia masih berlangsung hingga sekitar 1300 SM.
Keberadaan kota kuno ini diumumkan kepada publik pada 2024 setelah tim peneliti yang dipimpin arkeolog Guillaume Charloux dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) menyelesaikan penelitian lapangan selama empat tahun.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One dan mendapat perhatian luas karena memberikan gambaran baru mengenai perkembangan peradaban di Jazirah Arab pada masa lampau.
- Dikelilingi Benteng Pertahanan yang Kuat
Salah satu temuan paling mencolok di Al-Natah adalah keberadaan benteng batu yang mengelilingi kota. Struktur pertahanan tersebut memiliki ketebalan sekitar 3,5 hingga 6 meter dengan tinggi yang diperkirakan mencapai lima meter.
Selain tembok pertahanan, para peneliti juga menemukan dua menara besar yang diduga berfungsi sebagai titik pengawasan.
Keberadaan sistem pertahanan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Al-Natah telah memiliki organisasi sosial yang cukup maju dan mampu membangun infrastruktur untuk melindungi wilayahnya.
- Memiliki Tata Kota yang Terencana
Meski hanya dihuni sekitar 500 orang, Al-Natah menunjukkan konsep tata kota yang cukup modern untuk ukuran zamannya.
Para arkeolog memperkirakan terdapat sekitar 50 rumah yang dibangun secara teratur dan saling terhubung melalui jalan-jalan sempit. Penggalian juga mengungkap adanya pembagian kawasan berdasarkan fungsi, mulai dari area permukiman, pusat aktivitas yang diduga menjadi lokasi pengambilan keputusan, kawasan pemakaman, hingga ruang terbuka.
Penataan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat setempat telah menerapkan sistem perencanaan kota, bukan sekadar membangun permukiman secara acak.
- Memiliki Sumber Air dan Menyimpan Berbagai Artefak
Keberlangsungan kehidupan di Al-Natah didukung oleh ketersediaan sumber air. Para peneliti menemukan sedikitnya tiga sumur yang berada di kaki tebing batu, ditambah beberapa mata air di sekitar oasis.
Sumber air tersebut memungkinkan penduduk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus melakukan kegiatan pertanian sederhana di tengah lingkungan gurun.
Dalam proses penggalian, arkeolog juga menemukan kompleks pemakaman berbentuk makam menara yang menyimpan berbagai benda bernilai, seperti kapak logam, belati, batu akik, kristal, dan sejumlah artefak lainnya.
Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti penggunaan sistem tulisan di kota tersebut. Ketiadaan prasasti maupun dokumen tertulis membuat para peneliti mengandalkan analisis terhadap struktur bangunan, keramik, serta benda-benda peninggalan untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat Al-Natah.
Mengubah Pemahaman tentang Sejarah Jazirah Arab
Penemuan Al-Natah menjadi bukti penting bahwa Jazirah Arab telah memiliki komunitas menetap dengan sistem sosial dan tata kota yang berkembang sejak ribuan tahun lalu. Temuan ini sekaligus mengubah pandangan lama yang menganggap kawasan tersebut hanya dihuni oleh kelompok masyarakat nomaden.
Dengan berbagai struktur bangunan, benteng pertahanan, serta artefak yang berhasil ditemukan, Al-Natah diperkirakan akan terus menjadi fokus penelitian arkeologi. Para ilmuwan berharap penggalian lanjutan dapat mengungkap lebih banyak informasi mengenai kehidupan, budaya, dan perkembangan peradaban masyarakat Arab pada Zaman Perunggu.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














