
BOGORTODAY.COM – Perkembangan teknologi telekomunikasi terus bergerak menuju generasi berikutnya. Setelah jaringan 5G mulai diadopsi di berbagai negara, kini perhatian dunia beralih pada teknologi 6G yang diperkirakan akan mulai diterapkan secara global dalam beberapa tahun mendatang.
Di Indonesia, kesiapan menghadapi era 6G mulai menjadi pembahasan penting. Sejumlah pihak menilai persiapan harus dilakukan sejak sekarang agar Indonesia tidak kembali tertinggal seperti saat implementasi jaringan 5G.
Persiapan Harus Dimulai Sejak Dini
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menilai bahwa perencanaan pemanfaatan spektrum frekuensi, khususnya pita 6 GHz, tidak bisa menunggu hingga teknologi tersebut resmi dipasarkan secara komersial.
Menurutnya, Indonesia perlu menyusun strategi sejak awal agar mampu mengikuti perkembangan standar telekomunikasi internasional. Tanpa persiapan yang matang, Indonesia berisiko kembali terlambat mengadopsi teknologi baru ketika negara lain sudah lebih siap.
Ia menekankan bahwa langkah antisipatif sangat penting mengingat proses penyiapan regulasi, infrastruktur, hingga alokasi spektrum membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Belajar dari Implementasi 5G
Sarwoto juga menyoroti perjalanan implementasi jaringan 5G di Indonesia yang dinilai berlangsung lebih lambat dibandingkan banyak negara lain.
Secara global, teknologi 5G mulai dikembangkan di laboratorium sejak sekitar 2012 dan mulai diterapkan secara komersial pada 2017. Sementara itu, Indonesia baru meluncurkan layanan 5G pada 2021 melalui operator seluler.
Hingga kini, tingkat adopsi 5G di berbagai negara telah mencapai lebih dari 70 persen. Sebaliknya, pemanfaatan jaringan tersebut di Indonesia masih berada pada angka yang relatif rendah.
Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi pelajaran penting agar proses menuju 6G tidak mengalami keterlambatan serupa.
Indonesia Bisa Langsung Memanfaatkan 6G
Meski implementasi 5G belum merata, Sarwoto menilai Indonesia tetap memiliki peluang untuk memaksimalkan teknologi 6G di masa depan.
Menurutnya, keberhasilan adopsi teknologi baru tidak hanya bergantung pada kesiapan operator telekomunikasi, tetapi juga pada kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Apabila teknologi 6G mampu menghadirkan manfaat nyata bagi aktivitas ekonomi, industri, pendidikan, kesehatan, maupun sektor lainnya, maka permintaan pasar akan berkembang secara alami.
Spektrum Frekuensi Masih Menjadi Tantangan
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa pengembangan jaringan 6G membutuhkan tambahan spektrum frekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan teknologi sebelumnya.
Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan bahwa kapasitas spektrum seluler nasional diperkirakan mencapai sekitar 712 MHz setelah proses lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz.
Namun, kapasitas tersebut dinilai belum mencukupi untuk mendukung kebutuhan layanan 6G di masa mendatang.
Karena itu, pemerintah perlu membuka pita frekuensi baru yang dirancang khusus untuk teknologi generasi berikutnya.
Setiap Operator Membutuhkan Spektrum Lebih Besar
Berdasarkan proyeksi Komdigi, setiap operator telekomunikasi diperkirakan memerlukan sekitar 200 MHz spektrum agar layanan 6G dapat beroperasi secara optimal.
Sementara itu, pita frekuensi terbesar yang saat ini tersedia melalui mekanisme lelang hanya mencapai sekitar 190 MHz, sehingga masih terdapat kekurangan kapasitas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah mulai mengkaji alokasi spektrum baru sebelum implementasi 6G dilakukan.
Pita 6 GHz Masuk Dalam Kajian
Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah pemanfaatan pita frekuensi 6 GHz, khususnya kategori mid-band, yang dinilai mampu memberikan keseimbangan antara jangkauan sinyal dan kapasitas jaringan.
Selain itu, pemerintah juga masih mempelajari kemungkinan penggunaan pita frekuensi kategori upper band sebagai bagian dari pembahasan internasional menjelang World Radiocommunication Conference (WRC) 2027.
Hasil konferensi tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu acuan penting dalam penetapan standar spektrum untuk jaringan 6G di berbagai negara.
Peluang Besar bagi Transformasi Digital
Teknologi 6G diproyeksikan menghadirkan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi, latensi yang semakin rendah, serta kemampuan mendukung miliaran perangkat yang saling terhubung.
Kemajuan tersebut diperkirakan akan mempercepat transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, transportasi cerdas, layanan kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT).
Agar dapat memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal, Indonesia perlu menyiapkan regulasi, infrastruktur, dan spektrum frekuensi sejak dini sehingga mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi telekomunikasi global.
Meski jaringan 5G di Indonesia masih terus berkembang, persiapan menuju era 6G sudah mulai menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri telekomunikasi. Tantangan terbesar saat ini terletak pada ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai serta penyusunan strategi implementasi yang matang.
Dengan perencanaan yang tepat dan dukungan berbagai pihak, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi 6G sebagai pendorong transformasi digital sekaligus meningkatkan daya saing nasional di masa depan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














