Kenapa Ada Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk? Ini 9 Penyebab yang Didukung Penelitian

Nyamuk
Ilustrasi Nyamuk. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Pernah merasa menjadi “langganan” gigitan nyamuk saat berkumpul bersama keluarga atau teman? Sementara orang lain di sekitarmu tampak baik-baik saja, kamu justru dipenuhi bentol dan rasa gatal.

Ternyata, kondisi tersebut bukan sekadar kebetulan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nyamuk memang lebih tertarik pada orang-orang tertentu karena dipengaruhi berbagai faktor biologis maupun lingkungan.

Nyamuk betina membutuhkan darah sebagai sumber protein untuk membantu proses pembentukan telur. Saat mencari mangsa, serangga ini tidak menggigit secara acak, melainkan memanfaatkan sinyal yang dipancarkan tubuh manusia, seperti karbon dioksida, suhu tubuh, hingga aroma kulit.

Lantas, apa saja yang membuat seseorang lebih mudah menjadi sasaran nyamuk?

  1. Mengeluarkan Lebih Banyak Karbon Dioksida

Karbon dioksida (CO₂) yang keluar saat bernapas merupakan salah satu petunjuk utama bagi nyamuk dalam menemukan manusia.

Semakin banyak karbon dioksida yang dihasilkan tubuh, semakin mudah pula nyamuk mendeteksi keberadaan seseorang. Orang dengan ukuran tubuh lebih besar atau yang baru selesai beraktivitas fisik biasanya menghasilkan CO₂ lebih banyak dibandingkan orang lain.

  1. Aroma Tubuh yang Lebih Menarik
BACA JUGA :  Luruskan Video Viral Tipzy Bears, Pengelola Tegaskan Keributan Bukan Dilakukan oleh Pengunjung

Setiap orang memiliki bau tubuh yang berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh komposisi keringat, yang mengandung berbagai senyawa seperti asam laktat, amonia, dan zat alami lainnya.

Bagi sebagian orang, kombinasi senyawa tersebut menghasilkan aroma yang lebih disukai nyamuk sehingga risiko digigit menjadi lebih tinggi.

  1. Suhu Tubuh Lebih Tinggi

Nyamuk juga mampu mengenali panas yang dipancarkan tubuh manusia.

Ketika suhu tubuh meningkat, misalnya setelah berolahraga, mengalami demam, atau berada di lingkungan yang panas, nyamuk akan lebih mudah menemukan targetnya.

  1. Faktor Golongan Darah

Beberapa penelitian menemukan bahwa orang dengan golongan darah O cenderung lebih sering digigit dibandingkan pemilik golongan darah A.

BACA JUGA :  Hyundai Ioniq 3 Siap Meluncur di Indonesia, Ini Bocoran Spesifikasi dan Fiturnya

Meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, para peneliti menduga faktor genetik memiliki peran dalam menentukan tingkat ketertarikan nyamuk terhadap seseorang.

  1. Sedang Hamil

Perempuan yang sedang hamil diketahui lebih rentan mengalami gigitan nyamuk.

Selama masa kehamilan, tubuh menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan mengalami peningkatan suhu akibat perubahan metabolisme. Kondisi inilah yang membuat nyamuk lebih mudah mendeteksi keberadaannya.

  1. Bakteri Alami pada Kulit

Permukaan kulit manusia dihuni oleh jutaan bakteri yang berfungsi menjaga kesehatan kulit.

Bakteri tersebut juga berperan dalam menguraikan keringat sehingga menghasilkan aroma khas pada setiap individu. Perbedaan komposisi bakteri kulit membuat sebagian orang lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan yang lain.

  1. Mengenakan Pakaian Berwarna Gelap

Selain mengandalkan penciuman, nyamuk juga menggunakan penglihatannya untuk mencari mangsa.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================