MPLS Sekolah Rakyat 2026 Digelar 19 Hari, Ini Bedanya

MPLS
Sekolah Rakyat. (Foto: Ist)

BOGORTODAY.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan hanya dijalani oleh siswa di sekolah umum. Tahun ajaran 2026, siswa baru di Sekolah Rakyat juga mengikuti MPLS dengan konsep yang berbeda dan durasi yang jauh lebih panjang.

Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengatakan, pelaksanaan MPLS dimulai secara bertahap sejak 14 Juli 2026. Sistem bertahap dipilih agar seluruh fasilitas belajar dan asrama benar-benar siap sebelum siswa mulai tinggal dan belajar.

“Kami ingin memastikan anak-anak datang ke tempat yang aman, nyaman, dan seluruh fasilitasnya sudah siap digunakan,” ujar Gus Ipul.

Dibagi Menjadi Empat Gelombang

Tahun ini terdapat 101 Sekolah Rakyat yang mulai beroperasi. Untuk memastikan proses berjalan lancar, MPLS dibagi menjadi empat gelombang.

Jadwal pelaksanaannya meliputi:

  • 14 Juli 2026: 19 Sekolah Rakyat permanen.
  • 31 Juli 2026: 63 Sekolah Rakyat permanen.
  • 15 Agustus 2026: 8 Sekolah Rakyat rintisan di wilayah Jabodetabek.
  • 31 Agustus 2026: 11 Sekolah Rakyat permanen.
BACA JUGA :  SDN Cijayanti 4 Terapkan MPLS Ramah bagi Siswa Baru

Kemensos menjelaskan, pembagian gelombang dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan gedung, keamanan dan kenyamanan siswa, serta tersedianya fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, dan sanitasi.

MPLS Berlangsung Selama 19 Hari

Berbeda dari sekolah pada umumnya, MPLS di Sekolah Rakyat berlangsung selama 19 hari dan menjadi bagian dari masa persiapan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai secara penuh.

Setelah MPLS selesai, para siswa masih akan mengikuti program matrikulasi selama sekitar dua setengah bulan. Tujuannya agar mereka lebih siap menghadapi pembelajaran sekaligus beradaptasi dengan kehidupan di asrama.

Selama MPLS, siswa akan mendapatkan 36 materi yang dibagi ke dalam tujuh tema utama, yaitu pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, literasi dan numerasi, kesehatan serta perlindungan anak, literasi digital, kedisiplinan, hingga pencegahan perilaku berisiko seperti perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan judi online.

Selain itu, siswa juga akan mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis, asesmen psikologis, pemetaan potensi diri, serta pembiasaan hidup di lingkungan asrama.

BACA JUGA :  Resmi Bercerai, Hak Asuh Anak Wardatina Mawa Ditetapkan Pengadilan

Taruna TNI-Polri Dampingi Siswa

Pada lima hari pertama MPLS, siswa akan didampingi Taruna TNI-Polri. Pendampingan ini bertujuan menanamkan disiplin, kemandirian, serta membiasakan siswa menjalani aktivitas sehari-hari secara tertib.

Meski demikian, Kemensos menegaskan seluruh kegiatan harus berlangsung dengan pendekatan yang ramah anak.

Kekerasan Tidak Ditoleransi

Gus Ipul memastikan tidak ada ruang bagi segala bentuk kekerasan selama MPLS berlangsung. Baik kekerasan fisik, kekerasan seksual, perundungan, maupun tindakan intoleransi akan ditindak tegas.

Menurutnya, siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran akan langsung diberhentikan tanpa melalui tahapan surat peringatan.

Kemensos juga mengajak masyarakat ikut mengawasi jalannya program Sekolah Rakyat. Jika menemukan dugaan pelanggaran, masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui layanan Call Center 021-171 atau WhatsApp Center 0887-7171-171.

Dengan sistem yang lebih terstruktur dan pengawasan yang ketat, pemerintah berharap MPLS di Sekolah Rakyat menjadi awal yang baik bagi para siswa untuk belajar, berkembang, dan hidup mandiri di lingkungan pendidikan yang aman serta nyaman.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================