137643_largeSindiran Wakil Presiden M Jusuf Kalla terhadap tingkat suku bunga bank yang dinilainya masih terlalu tinggi, langsung direspon Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Menurut Agus, BI mempunyai penilaiannya sendiri kapan waktu yang tepat untuk kembali menyesuaikan suku bunga acuannya (BI rate). Salah satu yang menjadi pertimbangan Agus untuk menyesuaikan BI rate adalah pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, dengan masih rendahnya harga komoditas, tentu akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia. “Kita melihat harga minyak dan komoditi sudah berdampak kepada negara-negara yang mengandalkan komoditi,’’ kata Agus di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Seperti diberitakan harian ini Kamis, Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa suku bunga bank yang terlalu tinggi, membuat orang malas melakukan investasi. Bank sendiri, kata Kalla, bersaing mencari keuntungan lewat suku bunga yang tinggi.

Lantas Agus menyebut Rusia yang mengalami tekanan hebat pada nilai tukar, juga di beberapa negara Amerika Latin seperti Brasil, Venezuela. ‘’Kita tahu minyak Iran akan menyuplai paling tidak 500 ribu barel per day tambahan minyak dan ini akan mempengaruhi harga minyak dan pengaruhi harga komoditi,” kata

Menurut Agus, aspek-aspek seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran hingga stabilitas keuangan menjadi pertimbangan BI menyesuaikan BI rate. Kendati demikian, permintaan penurunan tidak harus cuma BI rate, melainkan juga dapat menyesuaikan kembali Giro Wajib Minimum (GWM) yang pernah dilakukan BI akhir 2015.

“Ini alternatif untuk BI merespon. Tetapi pada saat kita menetapkan BI rate kita tidak bisa mempertimbangkan inflasi dan riil rate tetapi ini kan negara ekonomi terbuka yang selain mempertimbangkan ekspektasi inflasi dan rate harus juga mempertimbangkan ekspektasi depresiasi dari mata uang kita,” papar Agus.

Agus menjelaskan, jika inflasi sepanjang tahun di kisaran 4±1 persen dan ada selisih antara riil rate dengan BI rate yang mungkin ada di kisaran 7,25 persen dibanding dengan 4 persen. Tetapi perlu juga dipertimbangkan depresiasi rupiah dan apresiasi USD. Di tahun 2015 apresiasi terhadap USD mencapai 11 persen dan di negara ekonomi terbuka sangat mungkin orang menyimpan dalam rupiah atau valuta asing.

“Hal ini agar menjadi seimbang dan yang pasti inflasi harus kita jaga, juga pertumbuhan ekonomi yang seimbang, jaga kesinambungan neraca pembayaran dan juga stabilitas sistem keuangan,” tukasnya.

loading...