Opini-2-HeruKALAU ada syair lagu dari penyanyi dang dut Cita Citata yang sangat popular di masyarakat, yaitu syairnya berbunyi sakitnya ada di sini penyanyinya sambil menunjuk di dada, maksudnya di hati, maka bahagia juga letaknya ada dihati, bukan di jabatan, kekayaan, kemewahan, gelar, pangkat, harta benda, mobil mewah, moge mewah, rumah mewah, makan mewah, minum mewah, hotel mewah, batu akik, batu berlian, kecantikan, kegantengan, ketenaran, popularitas, keturunan, hobi dan kesenangan kita serta semua yang bersifat materi atau duniawi.

Oleh: Heru Budi Setawan
Pemerhati Pendidikan

Apakah kita bahagia atau tidak, bisa kita cek dengan lima hal di bawah ini, yaitu:

Pertama, perbai­ki hubungan kita dengan Allah, bagaimana hubungan kita den­gan Allah selama ini? apakah baik atau justru buruk. Jika kita se­makin kaya dan terkenal tapi se­makin kurang beribadah, karena super sibuk, saya jamin kita tidak bahagia. Tapi jika sebaliknya jika kita semakin kaya dan terkenal semakin soleh, maka kita baha­gia. Maka dari sekarang, sesibuk apapun kita harus tetap solat wa­jib dan sunah serta tetap memba­ca Al Qur’an serta tetap menjadi hamba yang soleh dan solehah.

Maka kita budayakan sedang menunggu teman atau sewaktu macet kita bisa baca Al Qur’an, berdzikir atau membaca buku atau koran yang bermanfaat, dari pada melakukan hal-hal yang mubajir apalagi mengucapkan sumpah serapah dengan kelu­arnya kata-kata binatang.

Kalau ada orang kabur dari penjara untuk menikmati kebe­basan dan bersenang-senang, bahkan orang ini bisa ke luar negeri, orang ini tidak bahagia, karena dia dibayang-bayangi ter­tangkap petugas, dia senang tapi orang ini tidak tenang dan tidak bahagia. Orang ini untuk berusa­ha bahagia, meski tidak bahagia (baru tahap senang) harus menge­luarkan ratusan juta, mungkin bisa milyar, sementara ada orang yang sudah cukup bahagia hanya dengan makan semangkok bakso dan minum segelas teh hangat manis. Atau ada orang yang ba­hagia, tanpa harus mengeluarkan uang, yaitu seorang hamba yang tersungkur sujud dihadapan Al­lah dalam solatnya.

Kedua, lihat kesehatan jiwa kita, apakah kita termasuk orang yang suka bersyukur atau justru sebaliknya yaitu suka mengeluh? Jika kita sering mengeluh baik kita kaya apalagi miskin itu juga menyebabkan kita tidak baha­gia, tapi jika sebaliknya kita suka bersyukur, pasti kita bahagia dan berkah hidup kita, miskpuni kita kurang beruntung misal kita hidup pas-pasan apalagi jika kita kaya. Orang yang baik adalah, jika mendapat musibah sabar dan jika mendapat nikmat bersyu­kur. Seperti yang tertulis dalam Al Qur’an, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu ber­syukur, pasti Kami akan menam­bah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku san­gat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7). Itulah kebanyakan dari manusia, lebih banyak mengeluh dari pada bersyukur.

Ketiga, cek dosa kita, manu­sia tidak akan lepas dari berbuat dosa, apakah kita jarang melaku­kan dosa atau justru kita sering melakukan dosa? Jika kita sering berbuat dosa kita juga tidak ba­hagia, karena dosa itu adalah ses­uatu yang mengganjal di hati kita. Jika kita jarang melakukan dosa, maka kita termasuk hamba yang bahagia dan hidup penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan du­nia serta akhirat.

Ada baiknya kita harus sering berintrospeksi akan kekurangan dan dosa kita setiap hari, bisa dilakukan setiap akan tidur, kita cek dari bangun tidur sampai mau tidur dosa apa yang sudah kita perbuat. Memang berat un­tuk mengakui dosa-dosa kita, tapi kalau kita serius insyaAllah bisa. Bukankah kalau kita sering beris­tiqfar, Allah akan memudahkan semua urusan kita.

Keempat, seberapa sehat keuangan kita, penyakit keuan­gan adalah haram, jika kita kaya tapi didapat dari yang haram pasti kita tidak bahagia. Para koruptor meski uangnya milyar bahkan trilyun, demikian juga para gembong narkotika, para pengusaha maksiat dan semua pengusaha bisnis haram lainnya, pasti tidak tenang dan bahagia hidupnya, mereka hanya senang, yang pada akhirnya stres karena hatinya kosong serta orang-orang seperti ini pelariannya juga ke hal-hal yang haram, bahkan ban­yak yang sampai meninggal du­nia dalam keadaan teler, maksiat dan bunuh diri.

Lima, sehat secara sosial, kita akan bahagia jika kita baik sama saudara, sahabat dan tetangga kita. Allah dan Rasulnya telah mengajari kita untuk berbuat baik kepada tetangga. Rasulullah SAW bersabda : “Bukanlah terma­suk orang mukmin, yang dirinya kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar yang men­impa kedua sisi perutnya.”(HR. Bukhari)Seorang mukmin yang taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan meng­hindarkan dirinya dari menyakiti tetangganya. Tidak akan masuk surga orang yang mengaku beri­man dengan lisannya, tetapi tet­angganya tidak merasa aman dari kata-kata dan perbuatannya. Dan sebaliknya, kita akan meraih sur­ga dengan sikap terbaik kita pada mereka, atau salah satu pintu sur­ga adalah tetangga kita.

Itulah 5 hal untuk mengecek apakah anda bahagia ? silahkan untuk mencoba. (*)

loading...