Untitled-1Kepeduliannya pada anak-anak membuat dia membanting setir, mendirikan taman kanak-kanak yang gratis bagi mayoritas murid yang datang dari keluarga tidak mampu. Seniman lukis berdarah Tionghoa, Fransisca Christianti merasa terpanggil untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak bangsa.

Oleh : Abdul malik
[email protected]

Mulanya, wanita kelahiran 27 Desember 1977 ini mengajak ibu-ibu rumah tang­ga yang ada di sekitar rumahnya untuk membangun sekolah yang menaungi anak-anak kecil yang kurang beruntung. Sejak itu, tepatnya 2009, ia bersama teman-temannya itu berhasil membangun sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tunas Merah Putih.

“Harta tidak akan habis dan tidak akan diba­wa mati, pendidikan nomor satu, karena ilmu sampai matipun tetap berguna, harus giat bela­jar, tekun terhadap apa yang di jalani,” pungkas ibu dua anak ini.

Melihat nasib anak-anak itu membawa Siska mengingat kembali ke masa dimana dia seu­sia mereka. Dalam perbincangannya dengan BOGOR TODAY, Siska sedikit bercerita tentang masa kecilnya. Siska tidak terlahir dari keluarga kaya melainkan terlahir dari keluarga sederhana. Rumah di bantaran rel kereta api sudah pernah dialaminya namun Siska tetap mensyukuri apa yang ia punya saat itu.

“Untuk makan saja saya menanam dan me­manen tanaman sendiri, tapi saya tetap mensyu­kuri itu semua. Kesusahan bukan sesuatu yang susah, jadikanlah kesusahan itu tantangan untuk kita bisa mendapatkan hikmah dari Tuhan yang lebih lagi,” tutur wanita kelahiran Karawang itu.

Kehidupan yang sederhana semasa kecilnya menjadi alasan mendasar mengapa Siska sangat peduli terhadap anak-anak di sekitar rumahnya yang tidak mampu untuk bersekolah. Dengan ketulusannya Siska bertekat membantu mereka untuk mendidik dan memotivasi anak-anak itu seperti apa yang ia peroleh dari kedua orang tu­anya dahulu.

Disela-sela kesibukannya mengurus PAUD Tunas Merah Putih, Siska adalah seorang yang sangat berbakat di bidang melukis. Puluhan karya sudah ia telurkan, dan tentu saja hasilnya mampu memuaskan mata para penikmat seni. Berbagai perlombaan melukis pun sering diikuti olehnya, seperti lomba lukis peta dunia yang diprakarsai oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), poster kesehatan, MTQ nasional di Karawang, dan ma­sih banyak lagi.

“Perlombaan yang paling berkesan adalah pada saat SMP, saya mengikuti lomba lukis peta dunia BAKOSURTANAL, perlombaan itu ditunda setaun karena saya tidak mencantum­kan data diri saya di belakang lukisan terse­but,” pungkas wanita lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

loading...